TWO BOYS ARE LOST IN THE CHAPEL (Part 2)
***
Now play
Wildflower - Billie Eillish
"—Did i cross the line?"
***
Pesta malam tengah berlangsung.
Para alpha berkumpul, baik yang lajang maupun yang telah memiliki omega. Mereka saling mengobrol dan minum dengan leluasa.
Atsumu tidak pernah terbiasa dengan pesta orang kaya. Ditempatnya, sebuah persepsi pernikahan harus selesai sebelum jam 10 malam, atau akan didisiplinkan oleh aparat setempat. Tapi, ini adalah sesuatu yang tidak akan dijangkau aparat manapun...
Para pengusaha ternama, pengacara, pemilik rumah sakit, dirjen pajak bahkan menteri menteri negara datang ke pesta pernikahan Iizuna dan Shion. Wajah wajah yang tadinya hanya bisa Atsumu lihat di berita inspirasi pagi yang suka ditonton papah nya, kini dapat ia lihat langsung.
Atsumu sempat mengagumi betapa hebatnya keluarga Sakusa ini...
"Tsumu, sayang!"
Ditengah kebingungannya, sebuah suara tak asing kembali memanggil. Itu Lingxie, mommy nya Kiyoomi.
"..kenapa disini sendirian? Dimana Kiyoomi?"
Yang ditanya agak setengah gugup. Pasalnya, Kiyoomi tadi pergi meninggalkannya karena diseret oleh orang-orang yang mengaku teman SMP nya dan Iizuna. Pria itu pergi, dan menyuruh Atsumu untuk menunggu disini.
Tapi, sudah setengah jam... Dan Kiyoomi belum juga kembali.
"I-itu- tadi, beliau dibawa sama temen temennya, Tante. Mungkin untuk reuni kecil kecilan, hehe..."
"Terus dia biarin kamu sendirian?"
Atsumu tidak bisa menjawab lebih jauh...
"Oh astaga, anak itu..." Lingxie nampak frustasi dengan kelakukan putra semata wayangnya, "..dia tau banyak alpha disini, gimana bisa ninggalin kamu sendirian? Hadeh..."
"Eng-nggak papa, Tante. Saya gak ikut kerumunan, saya bisa nunggu dipinggir aja gak masalah.."
"Bukan gitu masalahnya, sayang. Cuma sebentar lagi acara bebas dimulai dan omega yang belum punya alpha dilarang bergabung," jelas Lingxie, "..kamu bisa ikut acaranya asal Kiyoomi ada di sekitarmu. Tapi, anak nakal itu malah pergi sama temen-temennya... Ckck, Tante jadi sakit kepala sekarang."
Ah, jadi gitu peraturannya...
Memang benar, ketika itu menyangkut hal hal yang berbau 'bebas', gender alpha omega sangat diperhitungkan. Semanusiawi apapun pikiran orang-orang ini sekarang, tidak ada yang bisa menjamin akal sehat mereka saat alkohol mengambil alih.
Dan omega lah yang akan paling dirugikan bila terjadi 'sesuatu yang tidak diinginkan'.
Lingxie kembali mendekat, menepuk pundak pemuda omega itu dengan mata lembut.
"Tante sebenernya mau sekali kamu hadir disini. Ada banyak yang mau Tante ceritain ke kamu sebagai orang yang dibawa Kiyoomi. Tapi, kondisinya gak memungkinkan, Tsumu. Jadi..."
Terlihat gimana gak enaknya Lingxie pada Atsumu karena perilaku semena-mena anaknya. Tapi, Atsumu paham. Pemuda itu hanya membalas ucapan menggantung Lingxie dengan senyuman.
"Gak papa, Tante. Tsumu juga mau jengukin Ik abis ini, jadi gak masalah kalau harus nunggu di hotel, hehe.."
Mendengarnya, wanita itu menghela nafas panjang, "okay. Nanti Tante juga coba cari Kiyoomi. Kalo ketemu Tante jewer kupingnya, terus Tante suruh jemput kamu di hotel, biar kamu bisa join kesini, ya?"
Atsumu mengangguk. Diam diam dia menunggu saat itu...
Saat Kiyoomi menjemputnya...
*
"Sayang? Lihat siapa yang mas bawa."
Oikawa, pemuda yang tengah mengandung 8 bulan itu kini masih terduduk di ranjang hotel lengkap dengan piyama kesayangannya. Ia mengalihkan pandangan dari orang yang tengah mengobrol bersamanya sedetik setelah mendengar suara sang suami dari pintu masuk kamar.
Matanya seketika membelalak penuh antusias,
"TSUMUUUUUU!!!!!"
"IKKKKKK!!!!!!"
Agak dramatis, tapi Ushijima sudah biasa dengan pemandangan ini selama bertahun-tahun.
Pemuda surai coklat itu dengan cepat turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu, hanya untuk menyambut sobatnya dengan pelukan. Yah, bagaimanapun kolot dan menyebalkannya Atsumu jika menyangkut perasaan, dia tetaplah teman terbaik yang Oikawa punya.
"Lu kenapa gak keluar lagi? Sakit banget tah badan lu?" Tanya Atsumu.
"Lemes cok gua, mana bawaannya pingin pipis terus. Ribet jir bajunya lepas pake lepas pake mending gua di kamar aja."
Ah, benar juga. Saat usia kandungan mulai masuk trimester 3, pasti ukuran janin menekan kandung kemih, yang mengakibatkan rangsangan ingin buang air kecil terjadi terus menerus.
"Duh kasian banget pakmil ini. Masih bisa jongkok tapi? Apa perlu gua bantu tiap mau pipis- eh?"
Ucapan Atsumu terhenti... Ketika matanya menangkap sosok lain yang kini juga berada didalam kamar hotel Oikawa.
Wajahnya tak asing. Rambut berwarna susu vanila yang nampak lembut, dan rona merah yang menghiasi kedua tulang pipinya yang tak akan Atsumu lupa...
Itu adalah omega yang kehadirannya sempat membuat Atsumu 'insecure'. Si omega yang bahagia, pengantin hari ini- Inunaki Shion.
"Halo!" Sapanya ramah, sesuai dugaan, "..Atsumu, ya?"
"H-ha? Oh- iya... Saya Atsumu. Kak Shion, kan?"
"Hehe, iya.."
"K-kok bisa disini? Tapi- acara bebasnya baru dimulai..."
Shion nampak mengerutkan pangkal hidungnya saat Atsumu mengungkit soal acara bebas yang kini sedang diselenggarakan di luar gedung. Entah kenapa, tapi sepertinya dia agak tidak nyaman.
"Yahhh aku gak bisa ikut acara bebas, hehe..."
"Eh, kenapa?"
Atsumu terduduk di ranjang yang sama dengan Shion dan Oikawa, saat instingnya lagi lagi mengatakan sesuatu, dan seketika aroma Shion berubah dalam pikirannya,
Ah, dia sedang mengandung.
"Hamil, ya?"
"Wew, kan bener kata gua kak, ini bocah instingnya kuat!" Ucap Oikawa, "..dia gak perlu lu kasih tau apa-apa juga UDAH TAU DIA! Curiga gua lu ada turunan mama Loren ya tsum?!"
Shion hanya tertawa kecil, seperti seseorang yang rahasianya telah terbongkar.
"Iya. Jalan 2 bulan."
Oh... Semuanya jadi masuk akal. Kebahagiaan yang Atsumu rasakan darinya saat di meja perjamuan tadi begitu hebat, tidak seperti berasal dari satu orang-
Dan ternyata benar, ada jiwa lain dalam diri Shion yang ikut bahagia hari ini.
"Sayang, mau mas tetap disini?"
Ditengah obrolan ketiganya, sosok Ushijima yang masih setia berdiri di pintu masuk bersuara. Meminta pendapat pasangannya atas apa yang perlu ia lakukan.
"Mas ikut ke acara bebasnya aja," jawab Oikawa, "..aku disini ngobrol sama Tsumu sama kak Shion. Aman kok!"
"Oke, kalo ada apa-apa langsung telpon mas, ya?"
"Iya, sip. Have fun, mas!"
Setelahnya terdengar suara pintu ditutup dan terkunci otomatis. Ushijima telah pergi keluar, menyisahkan ketiga omega yang terduduk di ranjang dan menghadap satu sama lain.
"Gua gak nyangka lu beneran mau diajak pak Omi kesini," suara Oikawa, memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Yah- ya gimana? Susah mau nolaknya, Ik."
"Yeu, emang dasarnya lu bucin aja!"
Shion hanya menonton bagaimana dengan kejamnya Oikawa mengatai temannya ini dan menoyor kepalanya, yang dibalas toyoran oleh Atsumu.
"Jadi kamu beneran pacarnya Kiyoomi?"
Aksi toyor-menoyor Oikawa dan Atsumu terhenti saat suara Shion kembali terdengar. Pria surai vanila itu fokus menatap Atsumu.
"O- gimana ya jawabnya- kalo ditanya pacar, bukan. Gak ada kata-kata pacaran antara saya sama pak Omi. Kami cuma-"
"Dosen sama murid. Tapi ni bocah satu kecintaan mampus sama si dosen kriwil kurang ajar itu HEU GUA MAH GREGET BANGET KAK LIATNYA DUA DUANYA PINGIN GUA JAMBAK!!"
Bukan Atsumu. Barusan jawaban sadis itu berasal dari mulut Oikawa.
Atsumu gak paham, kenapa saat me-roasting Kiyoomi pemuda itu jadi semangat banget? Katanya tadi lagi lemas...
"Jaga ya cucutmu!!"
"Emang nyatanya!?!"
Shion tersenyum tipis, "udah berapa lama emangnya naksir Kiyoomi?"
"Eh- kapan ya? Mungkin dari sejak masuk kuliah-"
"Bohong, bohong!!"
Lagi lagi Oikawa menyela..
"-udah sejak umur 7 tahun dia naksir pak Omi, kak!!"
Dan detik itu juga Oikawa di smackdown. Atsumu tidak peduli kalau pemuda itu tengah mengandung atau apa- dia akan membekapnya sampai kehabisan nafas malam ini.
"OIKAWA ANJENGGGG DIEM GAK LU!?!?!?"
Bukan. Atsumu tidak marah karena Oikawa mempermainkan atau meledeknya- tidak sama sekali,
..karena semua yang dikatakannya adalah kebenaran. Pemuda pirang itu hanya sebal, karena Oikawa telah berjanji bahwa hal itu hanya mereka berdua yang tau. Namun, hari ini salah satu orang yang berhubungan dengan Kiyoomi juga telah mengetahuinya-
MAU DITARO MANA MUKA ATSUMU????
"Hah? Serius??"
"GAK, GAK KAK, BECANDA!! EMANG IK INI ORANGNYA AGAK HUMORIS!!"
Atsumu tidak bisa membiarkan fakta itu mengalir makin jauh. Apapun selain itu. Tidak ada yang boleh tau tentang perasaannya pada Kiyoomi- bahkan pria alpha itu sekalipun.
"Gimana ceritanya kok kamu bisa naksir Kiyoomi selama itu? Eh coba coba kasih tau aku apa yang bikin kamu naksir Kiyoomi??"
Tapi sepertinya... Shion tidak akan mendengarkan pembelaan apapun dari Atsumu.
Kini omega mungil itu nampak antusias, seperti anak kecil yang hendak dibacakan dongeng...
"Udah Tsum, cerita aja. Kak Shion orangnya gak gampang bocor, kok."
Oikawa dengan posisi telentang setelah di smackdown diatas ranjang pun masih bisa bersuara. Apa Atsumu kurang keras mencekiknya?
"Hahh... Yah, pokoknya- dulu saya sempat ke Bali, waktu umur 7 tahun. Dan- ada kejadian yang buat saya ketemu sama pak Omi," singkat Atsumu,
"...dari situ saya pikir saya mulai suka dia. Tapi, saya gak pernah ketemu dia lagi setelahnya jadi saya pikir udah lupa. Eh, ternyata ketemu nya sewaktu kuliah. Dan yah... Ternyata saya masih suka dia."
Atsumu pikir terlalu panjang dan tidak ada gunanya jika ia menceritakan detail pertemuan pertamanya dengan Kiyoomi dan apa yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama dengan pria ikal itu. Intinya- mereka dipertemukan lagi setelah sekian lama... Dan tak ada yang berubah dalam hati Atsumu untuk pria itu.
Meski nyatanya, Kiyoomi mungkin sama sekali tidak mengingat pertemuan pertama mereka.
"Hmm berarti Kiyoomi masih 16 tahun, ya?"
Shion mengangguk sendiri, menimang ingatannya,
"...padahal waktu itu Kiyoomi masih jelek, dekil, kutu buku. Kok bisa kamu naksir dia?"
Dan itu respon yang tak pernah dibayangkan oleh Atsumu.
"Hahh pak Omi dulu pernah kayak kutu buku, kak?? Kok Tsumu gak bilang apa-apa?" Tanya Oikawa
"Gua bilang dulu dia pake kacamata, oke? Mana gua tau dia kutu buku atau bukan??"
Shion tersenyum, "mungkin waktu ketemu kamu dia baru cukur. Sebelumnya rambut Kiyoomi agak panjang, bahkan bisa sampe nutupin matanya."
"WAH SERIUS KAK?? Kayak wibu wibu misterius gitu, dong??"
"Iya." Omega 29 tahun itu mengangguk sambil terkekeh pelan, "...apalagi waktu SMP, Kiyoomi beneran keliatan kayak anak dari pedalaman. Dia cerdas, tapi penampilannya kayak orang udik,
-jadi dia sering di bully sama temen-temennya."
Oikawa dan Atsumu mengatupkan bibir spontan. Apa mereka tidak salah dengar?
Sakusa Kiyoomi di bully?
Oikawa tau bahwa Shion pernah satu sekolah dengan Iizuna dan Kiyoomi. Saat itu, Iizuna adalah kakak kelasnya yang lumayan terkenal, yang merupakan sepupu Kiyoomi. Shion mendekati Iizuna melalui Kiyoomi sampai akhirnya mereka menjalin hubungan hingga sekarang. Tapi...
Shion tidak pernah menceritakan bagian ini.
*
"Liat siapa yang kita bawa guys??"
"Woah, Kiyoomi kah ini?? Gila berubah banget lu dari jaman SMP!!"
"Dulu perasaan dia cuma se pundak gua kok bisa tingginya sekarang nyaris dua meter HEY MAKAN APA LU MI?!?!"
Kiyoomi tidak mengetahui bahwa Iizuna juga turut mengundang teman-temannya saat jaman SMP, yang mana kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang Kiyoomi kenal.
Dengan sedikit paksaan, pria bersurai ikal hitam legam itu dibawa ke kerumunan besar yang tengah meneguk botol botol alkohol itu. Jujur, Kiyoomi bahkan tidak lagi mengenali wajah orang-orang ini, sangking lamanya mereka tak pernah bertemu.
Bukan tidak ada kesempatan, Kiyoomi yakin mereka rutin mengadakan reuni setiap tahun. Hanya saja Kiyoomi tidak pernah ikut.
Dia tidak pernah sudi untuk ikut.
"Ya, okay. Selamat menikmati acaranya. Ada sesuatu yang harus saya kerjain, saya pamit-"
"Wey wey, buru buru amat pak dosen," ucap seorang teman kelasnya saat di tingkat 1, yang kini merangkul pundak Kiyoomi seolah mereka akrab, "..kita baru ketemu setelah sekian lama. Emangnya lu gak kangen sama kita kita, hm?"
Bau yang paling Kiyoomi benci didunia ini adalah bau mulut setelah seseorang meminum alkohol, dan sekarang... Mereka semua berbau seperti itu.
"Gak terlalu, dan tolong jangan pegang baju saya. Bau rokoknya bisa menular."
Pria yang sempat merangkul Kiyoomi lumayan terkejut saat rangkulannya ditepis keras.
Dia terkekeh tidak menyangka.
"Wow, anak ini jadi lumayan berani, hm?"
"Steve, udahlah. Sekarang kita udah pada mau kepala 3, jangan bikin ribut disini, oke?"
Hubungan Kiyoomi dengan beberapa teman kelasnya saat SMP memang kurang baik- atau bisa dibilang, sangat tidak baik. Sejak SMP, Kiyoomi memiliki prestasi gemilang terlebih di bidang akademik. Berkat itu, banyak orang yang tidak menyukainya.
Juga, tampilan pria itu dulu sangat berbeda dengan sekarang. Kacamata bulat min.6 yang selalu bertengger di hidung bangirnya, juga potongan rambut acak yang tampak tidak terlalu rapih bikin Sakusa Kiyoomi jadi target empuk bully.
Jadi kalau sekarang dibilang dia kangen atau gak sama temen sekelasnya, jawabannya udah pasti enggak.
Dengan masa SMP pun Kiyoomi gak terlalu ingin mengingatnya...
...kecuali-
"Oh, Kiyoomi kah ini??"
...satu orang ini.
Wajah malas dan nyaris meledak karena muak yang Kiyoomi tampilkan sejak tadi, terganti seketika.
Matanya melirik sedikit, melihat seseorang yang datang menembus kerumunan hanya untuk menyapanya- wanita dengan gaun hijau kekuningan sebatas lutut, rambut coklat kemerahan bergelombang menutupi pundak. High-heels 5 cm nampak pas di kaki jenjangnya, pangkal pipi yang kemerahan, dan-
Kiyoomi bersumpah ia tak akan melupakan warna mata emerald itu.
Kasih tak sampai-nya.
Pria 29 tahun itu terdiam ditempatnya, seolah disihir begitu saja sejak kedatangan sang wanita.
Yang ditatap seperti tak merasa ada yang salah. Ia terus melangkah, mendekatkan diri hingga tangannya menyentuh pundak pria ikal itu.
"It's been a while since i saw you!" Katanya, dengan mata berbinar, "..kamu berubah banyak. Kakak hampir gak ngenalin kamu."
Setiap kali ditanya 'bagaimana tipe idamanmu', Kiyoomi selalu memiliki jawaban yang konsisten. Dia menyukai sosok matang yang lebih tua. Seseorang yang bisa membantunya dalam memimpin keluarga dan menjadi alpha sempurna. Seseorang dengan 'kecantikan' yang alami, tidak terlalu banyak bicara dan bisa diandalkan.
Ya, Kiyoomi selalu punya tipe ideal seperti itu, dan semua orang tau. Daddy mommy nya, Ushijima bahkan Atsumu pun tau tipe ideal Kiyoomi yang terdengar 'tidak terlalu realistis' itu. Tapi... Mereka tidak tau-
Bahwa wanita inilah yang menciptakan tipe ideal tersebut.
"K-kak Emma..."
Mulut si alpha mulai terbuka, dengan getaran minimal ia memanggil nama omega didepannya.
Sudah lama. Kiyoomi mengira dia telah melupakan semuanya. Kenangan buruk saat SMP, hari-hari di petihan IMO, wajah teman temannya yang suka membully nya dan mengatakan bahwa dia 'mengerikan'- Kiyoomi pikir dia telah mengubur semua itu.
Namun, sepertinya orang bernama Emma ini dikecualikan. Karena saat mulut Kiyoomi menyebut namanya, ada sesuatu yang bangkit dalam hatinya.
Oh...
...dia masih memiliki perasaan untuk wanita ini.
*
"HAHHHH JADI PAK OMI PERNAH MENANG IMO DUA KALI WAKTU SMP?!?!?!?"
Melihat bagaimana syok dan terpukulnya Oikawa karena fakta yang baru disampaikan, Shion hanya terkekeh kecil. Sepertinya di mata Oikawa, Kiyoomi hanyalah seorang yang kolot tapi penuh keberuntungan. Pemuda itu pasti tidak menyangka betapa cerdasnya Kiyoomi, apalagi di bidang matematika.
"Iya," jawab Shion tanpa ragu, "...di kelas 2 dia pernah menang perak, terus kelas 3 menang emas."
Mulut Oikawa masih menganga lebar. Berbanding terbalik dengan Atsumu yang meskipun terkejut dia tetap memasang wajah bangga, seperti pencapaian Kiyoomi dulu adalah hal yang juga membuatnya bahagia.
"Tapi- dia gak pernah nyombongin pernah menang IMO, ya kan Tsum?"
"Kok lu seolah-olah kayak pak Omi tuh songong banget sama semua hal yang dia punya sih??"
"LAH KAN EMANG IYA????"
Disaat Oikawa dan Atsumu kembali berdebat, Shion memotong-
"Tapi yah, wajar kok kalo Kiyoomi gak pernah cerita tentang masa SMP nya, terlebih soal IMO," jedanya,
"..karena itu kenangan buruk buat dia."
Atsumu mengerjab, menatap Shion bingung, "kenapa gitu? Kan itu prestasi."
Shion tau ini bukanlah haknya untuk menceritakan tentang kehidupan masa lalu Kiyoomi, apalagi soal hal hal yang tidak Kiyoomi ingin orang lain tau. Tapi...
..setelah semua yang terjadi dulu, ini pertama kali teman SMP nya itu kembali membawa seseorang dalam acara keluarga, jadi-
Orang ini orang yang cukup istimewa untuk Kiyoomi, kan?
Shion menjawab, dengan senyum tipis ia menatap Atsumu...
"Soalnya itu alesan pertama kali Kiyoomi patah hati."
Terdiam.
Tak ada respon yang diberikan Atsumu selain diam.
"Aku udah bilang kalo Kiyoomi sering di bully karena penampilannya, kan? Tapi dia anaknya cerdas. Dia dimasukin ke line up IMO sejak kelas satu. Terus disana...
...dia ketemu sama Emma."
Yang Atsumu tau, satu-satunya Emma yang pernah dibicarakan Kiyoomi hanya Emma Watson, seorang pemeran di film Harry Potter. Dia tidak pernah mendengar pria 29 tahun itu mengungkit-ungkit soal si wanita ini.
"Nathalie Ezmaralda. Itu kakak kelas kami, satu tingkat sama Iizuna. Dia udah join line up IMO duluan dibanding Kiyoomi. Bisa dibilang selama menjelang IMO, Emma tuh mentornya Kiyoomi. Mereka sering belajar bareng, ikut pelatihan bareng, pokoknya apa-apa bareng. Terus Kiyoomi jatuh cinta, deh."
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Atsumu adalah yang paling terkejut. Pasalnya, Kiyoomi bilang bahwa sebelum dekat dengan Atsumu, pria itu tak pernah melibatkan perasaan apapun dalam hidupnya. Tapi nyatanya Kiyoomi pernah jatuh cinta?
Jadi, apa semua yang dikatakan selama ini bohong?
Apa pria itu hanya ingin memberi Atsumu alasan menolak tanpa harus menyakiti perasaannya?
"Cuma- selama ikut IMO, Emma gak pernah menang sekalipun. Sedang Kiyoomi sebaliknya, dia kelas dua aja udah dapet perak. Jadi yah- di usia segitu apalagi yang bisa dirasain Emma selain iri, kan?"
"..puncak dari rasa iri itu, dia ngomongin Kiyoomi ke temen-temennya,
'He's just a creep. Gimana bisa kalian mikir gua mau sama dia?', katanya. Hehe..."
"- dan Kiyoomi denger semuanya."
*
"Kedip elah Mi, lu kayak gak pernah liat cewek cantik aja. Hahahah!"
Kiyoomi tersentak dari lamunannya, ketika pukulan mendarat di punggungnya. Ah, berapa lama dia sudah menatapi wanita didepannya?
"Haha, flashback ya lu liat kak Emma. Makin cakep? Makin mantap kan?"
Yang ditanya tidak tau harus menjawab apa. Jujur, melihat sosok wanita yang menjadi alasannya patah hati di masa lalu seperti menyentil sudut hatinya. Ngilu, tapi ada debaran menyenangkan.
Mungkin, Kiyoomi hanya bersyukur mengetahui wanita ini masih sehat dan lengkap hingga sekarang.
Emma kembali bersuara,
"Setelah lulus SMP, kamu balik ke Bali lagi. Sebenernya aku penasaran apa alesan Kiyoomi gak netap aja di jakarta, tapi gak pernah ada kesempatan aku buat nanya .."
Kamu, kak. Alesannya ya karena kamu- Kiyoomi ingin menjawab itu, tapi mustahil.
Emma mungkin tidak menyadari bahwa obrolannya dengan teman-temannya waktu itu didengar oleh Kiyoomi- Obrolan yang sampai sekarang pun masih meninggalkan jejak pahit di mulutnya tiap kali pria ikal itu mencoba mengatakan hal hal yang berbau cinta.
Trauma nya memang nyata, dan Kiyoomi masih mengingatnya. Tapi- Itu tak membantah fakta bahwa Emma pernah menjadi seseorang yang begitu istimewa di hatinya.
"Y-yahh... Mom bilang suka kangen, jadi pindah ke sekolah yang lebih terjangkau aja," Jawabnya, bohong, "...kakak sendiri, gimana setelah lulus? Jadi kuliah di Jerman?"
"Oh? Kamu masih inget aku mau kuliah disana? Wow, you remember me so well, Omi. Hahaha..."
'You remember me so well?' I remember you all too well, kak.
"..btw, gak jadi, hehe. Aku gagal di penerimaan beasiswa, jadi gak bisa lanjut ke Jerman." Sambungnya.
"Oh, gitu..."
Entah kenapa atmosfer disekitar mereka jadi aneh. Emma jelas punya skill berbicara yang luar biasa sejauh Kiyoomi bisa mengingatnya, tapi hari ini wanita itu cenderung diam. Bahkan setelah jawaban singkat dari si pria alpha, ia hanya menunduk. Tidak tau bagaimana menyambung pembicaraan.
"Udah lama banget sejak terakhir kita ketemu. You know, you look happier now, Kiyoomi,"
Ujar wanita cantik itu, yang kini berhasil mengembalikan fokus Kiyoomi yang sempat berantakan.
"...kakak seneng bisa lihat kamu yang sekarang."
Wow, senyuman macam apa itu?
Saat kedua sudut bibir sang wanita omega tertarik ke sudut-sudutnya, membentuk sebuah lengkungan manis yang tak bisa Kiyoomi abaikan. Lesung pipinya nampak, menambah kesan manis hingga terlalu manis.
Tanpa sadar pipi Alfa 29 tahun itu berkedut, sudutnya ikut tertarik. Membalas senyuman sang omega.
Kiyoomi pikir hatinya telah tertutup. Tersegel rapat untuk wanita didepannya ini. Namun, nyatanya- Sakusa Kiyoomi juga hanyalah seorang pria biasa...
...yang bisa lemah dihadapan cinta pertamanya.
"And you look more beautiful tonight, kak Emma."
*
"...jadi, kak Shion mau bilang kalo pak Omi jadi kayak bajingan itu gara-gara dia punya trauma masa lalu sama kisah percintaannya?"
Si pengantin hari ini tertawa kecil denger pertanyaan sekaligus umpatan Oikawa. "Yah, gak bisa dibilang bener tapi- kurang lebih gitu. Semenjak kejadian waktu SMP, Kiyoomi jadi agak tertutup soal hal hal yang berkaitan sama kisah percintaan. Dia cenderung gak percaya sama orang saat mereka bilang 'cinta' atau 'suka' ke dia,
..karena Kiyoomi masih nganggep dirinya gak pantes disukain orang lain."
Dan selama acara berbincang dengan Shion mengenai masa lalu Kiyoomi beserta traumanya, Atsumu hanya diam mendengarkan.
Ah, jadi... Alasan kenapa Kiyoomi selalu menganggap cinta nya main-main bukan karena sekedar pria itu menilai Atsumu terlalu muda, tapi- karena dia pernah dikatai 'creep' oleh orang yang dia suka.
Selama ini Kiyoomi selalu mempertanyakan apakah dirinya pantas disukai orang lain.
"Mungkin sebagai kakak sepupunya sekarang kurang pantes ngomong gini, tapi, serius deh, Kiyoomi tuh kayak anak kecil yang apa-apa harus diajarin," tambah Shion,
".. dia gak paham gimana nanggapin rasanya cemburu, dia gak pinter nangkep perasaan kehilangan. Dia gak tau caranya nerima cinta. Tapi, aku kasih tau aja-
-Kiyoomi itu pecinta yang andal."
Kali ini, Atsumu kembali menegakkan kepalanya. Karena ia merasa seseorang sedang menatapnya dengan intens, dan itu benar.
Mata abu-abu terpaku tepat pada si pemuda pirang. Mengisyaratkan apapun yang ia katakan tadi adalah khususkan untuk Atsumu dengarkan.
Shion tersenyum kecil, penuh arti.
"Makasih ya Atsumu, udah suka dan sayang sama Kiyoomi,"
"..aku tau dia kadang bikin kamu bingung sama tingkah lakunya. Bikin kamu mikir 'is it worth it?'. Tapi...
When you see him in every part, you'll understand how clueless he will be."
Dan kata terakhir yang Shion katakan sebelum pesta malam diumumkan berakhir akan selalu membekas di kepala Atsumu,
"Ajarin Kiyoomi caranya mencintai dengan benar, oke?"
*
Oikawa mengatakan akan keluar sejenak untuk menghirup udara segar diluar. Dia pergi dengan cara paling norak sedunia (menurut Atsumu) yaitu dijemput oleh suami alfa nya yang sama sekali gak berbau alkohol dan digendong dengan gaya paling romantis.
Shion pun sama. Sebagai sepasang pengantin yang masih dilanda atmosfer penuh cinta, Iizuna datang mengambil omega hamil 2 bulannya. Merangkul pinggang Shion seolah semua orang harus tau bahwa pria manis itu miliknya.
Dan, yah... Disinilah Atsumu berada. Sendirian, didepan kamar hotel Ushijima dan Oikawa yang pemiliknya tengah bercumbu entah dimana.
Sebenarnya dia punya kamar hotel sendiri, di lantai yang berbeda. Kamar hotel dengan dua ranjang- untuknya dan Kiyoomi.
Atsumu tidak yakin apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia perlu mencari Kiyoomi dan mengecek apa pria itu baik-baik saja? Atau dia hanya perlu kembali ke kamar dan menunggu sampai si alfa datang dengan sendirinya?
Pemuda pirang itu bingung. Ini pertama kalinya ia ikut acara hingga larut malam begini.
"Oh, disini guys!! Aroma nya dari sini!!"
Baru beberapa langkah Atsumu memutuskan untuk pergi keluar, mencoba mencari Kiyoomi disaat pesta malam sudah berakhir. Namun, langkahnya dihentikan oleh beberapa suara yang berasal tak jauh darinya-
Mata pemuda itu menyipit, mencoba fokus pada segerombolan orang asing yang datang dari luar, berjalan kearahnya...
Oh, tunggu... Mereka bukan cuma sekedar orang asing,
Disana ada-
"...pak Omi?"
Mata yang semula menyipit itu kembali ke bentuk aslinya, namun dengan alis menekuk tajam.
Apa yang Atsumu lihat ini?
Kiyoomi- dengan keadaan setengah sadar, ditopang dua orang dikedua sisinya dan... Salah satunya wanita?
Omega?
"Oh, halo? Whoever you, kayaknya kamu kenal baik sama Kiyoomi, ya?"
Atsumu masih memperhatikan dari ujung rambut hingga kaki keadaan si pria ikal. Bagaimana bisa Kiyoomi jadi semabuk ini hingga untuk berdiri saja harus dibantu? Maksud Atsumu- seumur dia mengenalnya, Kiyoomi tidak pernah berada dalam situasi ini.
Pria itu jelas benci minum. Ia tidak pernah suka benda bernama alkohol, jadi... Kenapa bisa?
Apa yang membuat Kiyoomi melanggar prinsipnya?
"Hey, kok bengong? Kamu kenal Kiyoomi kan? Atau- you just, you know...
One night stand-nya?"
Ucapan barusan dari wanita cantik bergaun pendek itu makin membuat pandangan Atsumu menajam. Apa apaan dia? Kenapa semudah itu menuduh orang lain 'ONS'? Memang dia gak pernah diajari sopan santun?
"Hahh?" Atsumu membalas dengan tajam.
"Ugh, whatever. Bisa bantu angkat Kiyoomi sekarang? Dia berat banget astaga, cepet bantuin!"
Masih tidak bisa Atsumu mengerti kenapa bisa pria yang dia kira begitu keras soal 'aturan diri sendiri' bisa sangat ceroboh hingga tenggelam dalam pengaruh alkohol dan nyaris kehilangan kesadaran? Tapi, dua orang yang menopang tubuh Kiyoomi nampak sudah hampir mati sangking besarnya pria ikal itu, membuat Atsumu mau tak mau ikut membantu.
Meski seorang omega, Miya Atsumu tak pernah mau kalah oleh kembarannya dalam hal atletik, dan itu membuat tanpa sadar dia memiliki tubuh yang cukup kuat hingga bisa menopang Kiyoomi sendirian.
Atsumu melingkarkan lengannya di tubuh pria yang lebih tua. Dan seketika... Tangan Kiyoomi tergerak spontan,
Membentuk seolah ia tengah memeluk si pemuda pirang. Adegan yang cukup membuat Atsumu terkejut, tapi tak lama ia sadar bahwa Kiyoomi hanya butuh pertolongan. Tidak ada waktu untuk baper.
"Maaf, tapi... Bisa saya tau kenapa dia sampe mabuk gini?" Si pemuda omega itu berbicara, "maksud saya, dia bukan tipe orang yang suka minum."
Seorang wanita, satu-satunya omega yang berada diantara para pria alpha itu berbalik. Membuat rambutnya yang bergelombang bergerak pelan saat ia menoleh kembali pada Atsumu.
Ah, pasti Atsumu bohong jika mengatakan wanita didepannya ini tidak cantik. Dia punya padanan wajah yang sempurna, dan begitu enak dipandang. Atsumu pikir pasti banyak alpha yang akan berlutut di kakinya.
Tapi...
Wajah cantik itu seketika luntur dalam bayangan Atsumu, saat dia menyeringai.
Itu jelas bukan cara omega yang baik tersenyum.
"I don't know. Mungkin.... Dia cuma terlalu bahagia aja, dan gak sadar meneguk semua alkohol di meja," katanya, dengan nada angkuh
"...yah, gimana ya, para alpha memang suka gitu. Sangking bahagianya, mereka jadi gampang mabuk. Mereka sering hilang kendali-
-saat ketemu orang yang mereka cinta, ya kan?"
Atsumu terdiam.
Matanya mengerjab.
Apa yang wanita ini katakan?
"Oh, hati-hati. Mungkin nanti dia bakal ngigo lagi...
'Emma, Emma... Don't leave me. I love you, i love you,' yah, sesuatu kayak gitu..."
Dan sungguh, Atsumu hanya menampilkan raut wajah tak percaya sepanjang wanita ini bicara.
"Kiyoomi cuma lagi mabuk karena terlalu seneng. Sebenernya kami gak mau dia pergi sekarang, tapi kondisinya serius kacau banget, bahkan...
...he try to undress me, haha. How naughty kid."
DEG
"Apa?"
"Ow ow, don't offense. Gua gak tersinggung, oke? Cuma kaget dikit. Tapi ya... Wajar, sih. Setelah sekian lama kami gak ketemu, pasti Kiyoomi kangen banget sama gua.
Oh, kenalin... Gua Emma- Kiyoomi's first love."
Dengan kepala yang mendongak, wanita itu mengulurkan tangan. Mengajak Atsumu bersalaman.
Kepala Atsumu pusing. Rasanya dia dipaksa menerima informasi yang berat bertubi-tubi.
Tak ada respon- tepatnya, belum ada respon. Masih raut wajah tajam dan alis yang berkerut. Atsumu masih menatap wanita didepannya dengan pandangan sulit diartikan.
Ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya ketika mengetahui bahwa orang ini adalah Emma, seseorang yang diceritakan Shion sebagai 'cinta pertama Kiyoomi'.
Jadi, Kiyoomi bertemu dengannya hari ini, dan- dia mabuk?
Dia hampir termakan nafsu dan meng-klaim Emma?
Lelucon apa yang baru Atsumu dengar ini?
"Bohong."
Itu adalah pertahanan terakhir Atsumu.
"..gak mungkin pak Omi berbuat kayak gitu."
Tangan yang semula Emma ulurkan perlahan turun, kembali ke tempatnya.
Wanita itu melihatnya, bagaimana mental si pemuda pirang ini terguncang karena ucapan yang baru ia sampaikan. Kalimatnya seperti menghardik, tapi wajah Atsumu menunjukkan segalanya-
Bahwa hanya dengan satu sentilan kecil sekali lagi saja... Pemuda itu akan hancur sepenuhnya.
"Mmh, gak percaya? Gak papa. Bukan urusan gua juga," ucapnya, kali ini kembali berbalik seolah akan pergi meninggalkan Atsumu dengan mata yang mulai bergetar,
Tapi...
Emma berbalik bukan untuk pergi.
Wanita itu membalik tubuh hanya untuk menyibak rambut bergelombangnya, memperlihatkan sesuatu yang Atsumu tidak pernah kira akan ia lihat malam ini.
"See? Kiyoomi do this to me."
Leher hingga bahu wanita itu penuh dengan bekas ciuman yang mulai berwarna ungu, menandakan betapa ganas seseorang menginginkannya. Dan...
Dia mengatakan itu dari Kiyoomi?
Mulut Kiyoomi yang melukisnya disana?
Serius?
"Cuma orang mabok yang bisa bikin hickey sebanyak ini. And... Liat? Cuma Kiyoomi yang mabuk. Sisanya gak perlu gua jelasin lagi, kan?"
Tangan Atsumu bergetar.
Sebenarnya dengan orang macam apa dia jatuh cinta?
"Kalau masih gak percaya, silahkan tanya sendiri waktu Kiyoomi bangun. Bye..."
Dada Atsumu naik turun tak beraturan. Pria dalam dekapannya ini masih tak sadarkan diri, mendengkur seolah serangan panik Atsumu sama sekali tidak ada artinya.
Sungguh, tak ada yang bisa Atsumu pikir dengan jernih sekarang.
Di pesta pernikahan yang Atsumu pikir akan menjadi hal baik bagi kemajuan hubungan keduanya, berakhir dengan mimpi buruk yang tak pernah ia sangka.
Ada banyak sekali yang terungkap selama seharian ini. Mulai dari Atsumu yang mengetahui bahwa dalam hidupnya, Kiyoomi ternyata pernah jatuh cinta,
- dan apa yang dimiliki wanita itu jelas jauh berbeda dengan yang dimiliki Atsumu.
Atsumu tidak bisa menyalahkannya. Jelas Kiyoomi punya pilihan, sama seperti yang Atsumu lakukan, tapi...
Tapi Atsumu tidak pernah mencium orang lain.
Atsumu tidak pernah ingin mencium orang lain.
Dan malam ini, cinta pertama Kiyoomi kembali datang. Memporak-porandakan prinsipnya dan- Kiyoomi menciumnya.
Lalu apa yang harus Atsumu lakukan? Apa yang perlu Atsumu tanggapi?
Ia harus dewasa? Ia perlu memaafkan pria itu dan menganggapnya kesalahan, lalu menyalahkan jiwa alpha dalam diri Kiyoomi yang mungkin telah mengambil alih?
Ya. Mungkin Atsumu bisa melakukannya. Toh itu sama seperti dia memaafkan kesalahan-kesalahan Kiyoomi sebelumnya.
Hanya saja...
Hatinya masih sakit.
Persetan dengan semua skenario yang berusaha ia susun dalam kepalanya, itu tidak pernah berhasil.
Shion bilang, Kiyoomi adalah pecinta yang andal. Atsumu yakin itu benar...
...tapi kalimat itu bukan untuknya.
Apapun yang Shion katakan, ternyata Kiyoomi tidak memaksudkan itu untuknya.
***
Dengan semua pertanyaan dan ketidakpastian yang ada dalam kepalanya, Atsumu berjalan gontai menuju kamar hotel— dengan Kiyoomi dalam dekapannya.
Pria itu terlalu mabuk sampai tidak bisa berjalan dengan benar, jadi Atsumu memapahnya. Mendekapnya seperti sebuah benda berharga.
Sejujurnya ntuk ukuran pria brengsek yang telah dengan berani mencium orang lain dibelakang, harusnya si pemuda pirang mencampakkan Kiyoomi detik itu juga setelah mengetahui kebenarannya. Tapi...
Meninggalkan Kiyoomi sendirian, menelantarkannya seperti orang tidak berguna yang baru pulang dari club entah kenapa tak pernah terasa benar bagi Atsumu.
Jadi, meski dengan hati yang tak tenang, dia tetap membawa Kiyoomi masuk ke kamar double bed yang telah disiapkan untuk mereka bermalam.
"...sangking bahagianya, mereka jadi gampang mabuk. Mereka sering hilang kendali-
-saat ketemu orang yang mereka cinta, ya kan?"
Atsumu masih melepas sepatu Kiyoomi dengan telaten saat ucapan provokasi dari si gadis bermata hazel itu kembali muncul di kepalanya dan membuatnya mual.
Papa dan saudara kembarnya adalah alpha. Jelas Atsumu tau apa yang Emma katakan tidak sepenuhnya salah. Kelompok 'mereka' cenderung mudah dipengaruhi nafsu seperti halusinasi yang muncul dan tak terkendali, terlebih— ketika itu menyangkut orang yang mereka cintai.
Akhirnya Atsumu bernafas lega, saat tubuh besar Kiyoomi berhasil ia baringkan diatas ranjang. Pria itu tidak bergerak sedikitpun, persis seperti orang pingsan.
Yang lebih muda terdiam...
Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan sekarang?
Ada unsur ketidakpercayaan yang besar dalam diri Atsumu pada Kiyoomi. Pria itu baru saja dilaporkan mencium dan hendak menyerang seorang omega yang merupakan cinta pertamanya. Atsumu paham ia tak bisa mempercayai semua ucapan Emma begitu saja, apalagi menilai tatapan licik wanita itu— mungkin ada beberapa hal yang dilebih-lebihkan dari kejadian yang sebenarnya.
Namun...
Kiyoomi melanggar prinsipnya hari ini, untuk Emma.
Hal yang Atsumu kira tidak akan pernah bisa ia lakukan.
Karena sejak 'pertemuan pertama' mereka, Kiyoomi adalah orang yang memegang teguh prinsip dan apa yang pria itu percayai. Jadi... Melihatnya dalam kondisi sekarang, rapuh dan mabuk, memunculkan perasaan tidak nyaman dalam diri Atsumu.
Ah, bukan berarti Kiyoomi tidak bisa 'melakukannya', tapi...
...memang bukan Atsumu orangnya.
Dengan gerakan perlahan, pemuda dengan raut wajah sedih itu menunduk, membiarkan tangannya beranjak perlahan untuk mengusap wajah Kiyoomi yang tertidur.
Kalau dipikir lagi, kehadiran Atsumu dalam hidup Kiyoomi tidak membawa perubahan apa-apa.
Tapi... Satu malam bersama Emma, pria itu dengan berani melepas prinsipnya untuk tidak pernah menyentuh alkohol dan mabuk.
Tidak. Hal itu tidak pernah sepele untuk Atsumu.
Karena itu membuktikan betapa tidak ada artinya dia dalam kehidupan Sakusa Kiyoomi.
...dan hal itulah yang membuatnya menangis.
Persetan dengan ciuman, dia lebih tersakiti dengan fakta bahwa penilaiannya terhadap Kiyoomi selama ini keliru.
Atsumu berpikir dia ingin mencintai Kiyoomi dengan hal paling sederhana dan kebahagiaan kecil setiap harinya. Tidak pernah ia bayangkan jalan yang ditempuh akan se menjengkelkan dan se menyakitkan ini.
Pemuda itu terduduk di sebelah ranjang tempat Kiyoomi tidak sadarkan diri. Air mata tidak bisa berhenti, terus menetes seolah dinding pertahanannya telah runtuh.
Sebenarnya siapa yang selama ini dia cintai?
Pria yang mengatakan tidak memahami banyak tentang cinta? Pria yang mengatakan tidak akan melanggar prinsipnya hanya untuk seorang omega?
Dengan siapa sebenarnya dia jatuh hati?
Atsumu kehilangan jawaban.
"Pak Omi— maaf..."
Ditengah isakan, pemuda itu bergumam...
"...kayaknya— saya udah ngelewatin batas, ya?"
Malam itu, keduanya kehilangan.
Atsumu kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri,
...dan Kiyoomi—
—dia kehilangan cinta yang terlambat untuk dia mengerti.