A Boy Crying In The Twilight (Part 2)

***



; — "But I crumble completely when you cry
It seems like once again you've had to greet me with goodbye."











***







"Sayang?"




Oikawa menoleh saat pintu kamar yang tengah ia tempati kembali terbuka. Tapi kali ini yang terlihat bukan sosok pemuda pirang dengan wajah menyedihkan, melainkan suaminya. Ushijima.

"Mas? Kok udah pulang? Kata Atsumu masih ada meeting sore?" alis Oikawa naik setengah mengutarakan penasarannya. Pasalnya belum ada 15 menit sejak Atsumu keluar dari sini, dan Ushijima sudah muncul. Setau Oikawa, baik meeting perusahaan ataupun meeting kampus tidak akan hanya memakan waktu 15 menit.


Sosok besar itu mendekat kearah ranjang, lalu duduk di tepinya. Jas kantor yang ia kenakan seharian sudah ditanggalkan, menyisahkan kemeja putih yang lengannya sudah terlipat sampai siku dan dasi longgar. Ushijima meraih kepala pemuda yang paling dicintainya ini, menariknya mendekat lalu mengecup kening Oikawa lama.


Sama sekali belum menjawab pertanyaan pasangannya.





Oikawa yang masih mendekap bayi yang telah tidur akibat kenyang menyusu itu hanya menatap Ushijima dengan bingung. Masih mempertanyakan keadaan.


"Mas sebenarnya gak ada rapat, sayang." jawab si pria olive.

Oikawa mengerjab, "lah, terus? Kenapa tadi Atsumu bilang ada?"


"Karena mas yang minta," katanya, "..mas yang minta dia kesini untuk antar pesanan kamu, biar kalian bisa ketemu."







Sebentar... Oikawa masih mencoba mencerna semuanya.

"Tapi— kenapa?" 






Ushijima tau dalam permasalahan hubungan Kiyoomi dan Atsumu, dia hanya sebatas orang luar. Sekedar 'senior' dalam bidang yang sama ataupun 'suami teman'. Jadi Ushijima paham untuk tidak terlalu terlibat dalam apapun yang akan dua orang itu lakukan.

Hanya saja...


Melihat Kiyoomi yang biasanya tenang, tapi dalam satu bulan ini selalu nampak gelisah dan gusar bukanlah hal yang Ushijima sukai. Sejauh yang Ushijima tau, Kiyoomi adalah orang yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan otak cerdasnya, tapi kali ini— 





...dia seperti tidak bisa berbuat apa apa.


"Karena mas rasa cuma kamu yang bisa bantu Atsumu menyelesaikan semuanya." 






Oikawa terdiam. Matanya masih membalas tatapan yang pasangan alpha nya itu berikan. 

Tangan besar dan hangat yang sudah Ushijima cuci di wastafel depan itu tergerak, menyentuh pipi bayi mereka perlahan. Satu satunya yang bertahan. Dan menjadi alasan perasaan bersalah Oikawa pada Ushijima yang sama sekali tidak ada gunanya.





"Masalah ini sudah makin buruk, Tooru. Mas rasa ini harus diakhiri," ungkap Ushijima, masih mengelus pipi si bayi yang tertidur,

"...entah dengan mereka berbaikan atau perpisahan."





Yang lebih muda merespon dengan alis mengkerut, "mas tau kan kalo Tsumu minta saran ke aku untuk masalah begini, aku pasti bakal minta dia nyerah?"

Ushijima mengangguk. Dia tau.





"Terus kenapa mas masih kirim dia ke aku?"

"Karena mungkin itu yang terbaik," jeda Ushijima,

"..mungkin itu satu satunya jalan keluar untuk masalah ini."








Pemuda surai coklat itu mengatupkan bibirnya. Sejujurnya, selama hidup bersama dengan Ushijima, topik perbincangan mengenai kisah cinta Sakusa Kiyoomi dan Miya Atsumu bukanlah sesuatu yang langka. Karena di sela sela obrolan malam mereka akan membahasnya dengan sudut pandang masing-masing. 

Oikawa yang kekeh ingin Atsumu mengurangi effort nya agar si pria ikal itu sedikit menyesal telah menyia-nyiakan usaha sahabatnya, dan Ushijima yang lebih banyak diam tapi Oikawa tau dia mendukung Kiyoomi dan Atsumu bersama. 





Ya, biasanya Ushijima akan mendukung pria ikal itu dengan penuh keyakinan terlepas dari segala kelakuan ajaib Kiyoomi yang selalu membuat Atsumu merasa tidak berharga. Tapi, kali ini berbeda...

Seperti Ushijima juga sudah kehilangan keyakinannya.






"Mas tau sesuatu, iyakan?" tebak Oikawa, langsung ke intinya.







Tidak ada jawaban.

Alpha surai olive itu masih sibuk mengusapi pipi gembil bayi 1 bulannya yang sampai sekarang belum diberi nama resmi.






"Mas, jawab ih!" Oikawa mulai kesal menunggu, "mas tau sesuatu bakal terjadi, apa mas tau sesuatu yang udah terjadi?? Kalo menyangkut Atsumu harusnya mas kasih tau aku jangan malah— eh?"

Desakan itu terhenti. Saat Oikawa meraih tangan Ushijima yang masih bermain di wajah bayi mereka untuk mengalihkan perhatian pria olive itu kepadanya, ia merasakan tekstur kasar di buku buku jari Ushijima— sesuatu yang tidak biasa.





Pandangannya jatuh, tepat kearah bekas goresan yang samar, dan masih tampak kemerahan.





"Kamu abis nonjok orang mas?" tanya Oikawa.





Dan kali ini diamnya Ushijima ia anggap sebagai jawaban 'iya'.

Oikawa tau sesabar apa pasangannya ini. Dia tidak akan melayangkan tinju sembarang ke orang. Jadi, apa yang membuat Ushijima kehilangan akal sehat dan melepaskan kemarahannya?





"Mas jangan diem aja kamu abis nonjok siapa??" Oikawa mencoba mencari jawaban, ia mengguncang tubuh pria olive itu lumayan keras, "..kalo kamu ga jelasin ke aku, aku ga bakal tau masalahnya apa. Mas please jawab kamu abis ngapain sih??"





Selang beberapa detik setelah keheningan yang makin membuat dada Oikawa tidak nyaman, akhirnya terdengar helaan nafas panjang dari Ushijima.

Pria itu mendongak,










"Tooru..."

..mengatakan sesuatu yang membuat Oikawa kehilangan seluruh kesabarannya—













"...Kiyoomi sudah menerima perjodohannya."











*












"Nama kakak siapa????"

Anak yang berbalut seragam SMA itu berhenti, menolehkan kepala sejenak. Membuat surai ikal yang nampak agak acak-acakan itu ikut bergerak.

Menatap bocah kecil yang masih setia berdiri dibelakangnya.

"Nama ya? Hemmm...." dia nampak berpikir, belum memberikan jawaban pasti.

"...kayaknya gak perlu tau."

Anak laki laki yang lebih kecil dengan selisih usia 9 tahun itu mengerjab bingung. "Kenapa?"


"Kenapa? Ya karena—


setelah ini kita gak akan ketemu lagi. 

...jadi untuk apa tau nama?"















Diatas bangku taman kota sore ini, Atsumu terkekeh kecil. 

Tiba-tiba ingatan itu kembali. 

Atsumu ingat betapa pedenya bocah laki laki ikal berkacamata itu mengatakan bahwa mereka tidak akan bertemu lagi— dan bagaimana pada akhirnya takdir mempermainkan mereka.

Hahh... Jika Atsumu pikir pikir lagi, apa ya yang membuat dia jatuh hati dengan Kiyoomi di masa itu? Benar kata Shion, saat itu Kiyoomi hanya seorang siswa SMA dekil, udik dan tidak menarik. Harusnya Atsumu tak punya alasan menyukai orang jelek seperti itu. 

Tapi— 

Pada akhirnya Atsumu tetap menyukainya. Dia jatuh cinta dengan cara paling sederhana. 

Yah, tak pernah terpikir juga olehnya bahwa kesederhanaan itulah yang membawa luka yang tidak pernah ada obatnya.



"Sekali lagi, Tsum. Satu kali lagi aja—" gumamnya, menenangkan diri sendiri, "—terakhir. Abis ini gua janji gak bakal ngasih kesempatan lagi."

Dalam hatinya, Atsumu masih ingin menperjuangkan Kiyoomi. Ia ingin tau apakah isolasi singkatnya berdampak pada pria itu hingga ia berpikir benar. Ia masih ingin mempertaruhkan satu kesempatan lagi.


















"Maaf, saya terlambat."









Dari arah belakang kursi yang diduduki Atsumu, sebuah suara terdengar. 

Suara yang dulu menghiasi hari harinya, sesuatu yang selalu ingin Atsumu dengar. Yang sudah tidak ia temukan dalam satu bulan terakhir— suara Kiyoomi.

Pemuda pirang itu menoleh, dan seperti dugaan, jantungnya masih berdegup kencang tiap kali melihat pria ini. Dia datang dengan cara yang tak biasa, dengan nafas tersengal seolah baru saja menempuh perjalanan dengan berlari. 

Ah, bajunya juga tidak se rapih biasanya. Bahkan ada plester di sudut bibirnya. Atsumu penasaran badai apa yang dihadapi Kiyoomi sebelum sampai kesini?


"Kamu— sudah nunggu daritadi?" 

Atsumu terlepas dari lamunannya saat Kiyoomi mendekat, "a— oh, enggak. Gak papa pak, saya juga baru sampai kok."

Tak ingin memperpanjang basa basi, Atsumu menggeser duduknya. Menciptakan ruang yang cukup bagi Kiyoomi untuk duduk di bangku yang sama.

"Bapak darimana? Kenapa acak acakan gini?" pertanyaan pertama yang dilontarkan Atsumu

"Oh, saya? Saya abis— itu— apa— ketemu orang di depan kampus tadi—"

"BAPAK ABIS DIJAMBRET???"





Kan, kebiasaan Atsumu nyimpulin sendiri



"Heh bukan!" bantah Kiyoomi, "..bukan dijambret. Apa sih namanya, ya ketemu aja terus cekcok dikit. Terus— saya ditonjok."





Mata Atsumu membulat. Sialan, siapa yang berani mengacak-acak wajah tampan Sakusa Kiyoomi ini?!? Wah tak boleh Atsumu biarkan ini HARUS DIA BALAS—







"Tapi, udah selesai kok masalahnya. Aman." lanjut pria 30 tahun itu.

Atsumu yang tadinya lupa niat awal dan malah ingin melabrak pelaku penonjokkan akhirnya kembali tenang. "Oh... Ya syukur deh kalo udah selesai."







Hening beberapa saat...

Kiyoomi hanya tampak menatap Atsumu dengan ragu, sedangkan si pemuda pirang tengah menyusun sesuatu dalam pikirannya. Sesuatu yang ingin ia sampaikan...


"Kamu—"

Tapi, belum selesai Atsumu merangkai kata, Kiyoomi sudah bersuara,



"—selama satu bulan ini, apa yang kamu lakuin?"





Atsumu terdiam. Matanya mengerjab beberapa kali


"Maksud bapak?"

"Ya selama gak sama saya, apa yang kamu lakuin?"

Itu— pertanyaan pertama yang Kiyoomi tujukan pada Atsumu. Menggambarkan bahwa dari sekian banyak hal yang ingin dia tau, dia hanya ingin tau bagaimana kehidupan Atsumu selama sebulan ini,

..selama tidak bersamanya.









"Baik. Saya hidup dengan baik," jawab yang lebih muda, "..saya ambil cuti, jadi lebih banyak ngabisin waktu dirumah. Tapi bulan depan saya udah mulai ngejer skripsi, barengan sama Ik juga. Jadi, yah. Semuanya baik baik aja."

Benar. Pria itu tidak perlu tau bagaimana Atsumu yang menangisinya malam itu, dan malam malam setelahnya. Ia tak perlu tau bagaimana kalutnya Atsumu yang mempertanyakan tentang harga dirinya dimata Kiyoomi. Ia tak perlu tau kekacauan yang disebabkannya dalam hidup Atsumu.

Dan mendengar jawaban Atsumu membuat Kiyoomi mengangguk, "oke. Saya senang dengernya."

Tanpa sadar yang lebih muda makin merasa gugup. Jemarinya mulai melilit ujung baju yang ia kenakan, mencoba mencari awalan yang pas.








"Kalo bapak sendiri gimana?" tanyanya

"Hm?"

"Gimana sebulan ini tanpa ada saya?







Itu... Pertanyaan yang lumayan menohok.

Atsumu melanjutkan dengan tawa kecil, "pasti malah lebih oke sih soalnya kan gak ada yang ganggu bapak, gak ada yang chat gak jelas, gak ada yang ngirim stiker stiker aneh, eheheh... Tenang banget kan pak?"

Ya, memang benar.

Sebelum bertemu Atsumu, kehidupan Kiyoomi tuh sangat amat tenang. Tidak ada ucapan selamat pagi selamat siang selamat malam yang aneh, galerinya tidak dipenuhi meme meme jelek yang kadang untuk menghapusnya saja Kiyoomi malas. Tidak ada spam misscall 20 kali hanya karena pria itu mengatakan tidak bisa tidur. Ya, sebelum bertemu Atsumu, semuanya normal, baik hidupnya, maupun perasaannya.

"Iya, tenang," jawab Kiyoomi, "..tapi entah kenapa saya jadi gak terbiasa,"

Kehidupan Kiyoomi bagai sungai yang mengalir tenang, sebelum Atsumu datang dan memporak-porandakan segalanya.

"..kayak ada yang kurang aja gitu."











Dan jawaban Kiyoomi membuat otak Atsumu berhenti berfungsi sebentar. Itu bukan hal yang Atsumu kira akan Kiyoomi jawab.















"Sewaktu saya ketemu Osamu hari itu, saya sempat bertanya apa ada sesuatu yang kamu ceritain ke dia, yang saya gak tau," suara Kiyoomi lagi lagi terdengar, "..cuma katanya kamu gak cerita apa apa. Tapi kamu pulang dengan keadaan menangis— 

dan dia bilang saya penyebabnya."


Saat itu juga Atsumu tersentak lumayan keras.








Dia lupa fakta bahwa Osamu sudah pernah bertemu Kiyoomi untuk melampiaskan kekesalannya pada pria ini. Tapi apa saja yang mereka obrolkan hari itu, Osamu tidak pernah menceritakannya.

"Samu bilang gitu?" pasti Atsumu

Kiyoomi mengangguk, kali ini pandangannya jatuh kebawah, diantara rerumputan yang ia pijak. "Waktu itu saya juga bingung. Semua ingatan saya tentang pesta malam itu kabur, gak ada yang jelas. Jadi saya pikir mungkin ada sesuatu yang saya lakuin, yang bikin kamu terluka."














Yang lebih muda masih terdiam, menunggu penjelasan dari sudut pandang Kiyoomi lebih jauh...





"Lalu saya liat ponsel, saya cari nomormu, ternyata saya di blokir. Saya coba ke Instagram juga kamu blokir. Terakhir saya DM kamu lewat twitter, ternyata di blokir juga. Jadi saya mikir—



pasti saya udah keterlaluan kali ini."










Tidak ada yang bisa Atsumu katakan sebagai bentuk balasan. Bibirnya terlalu kaku. Ia tak menyangka Kiyoomi akan berpikir begitu. Kemana semua sikap acuh tak acuhnya? Kenapa perubahan Atsumu membuatnya berpikir sejauh ini?


Atsumu tidak mengerti.





















"Saya sadar, selama ini saya udah bikin kamu terluka. Sikap saya yang gak jelas maunya apa pasti selalu bikin kamu bertanya-tanya. Saya tau ini semua keputusan kamu dan saya gak berhak ikut campur itu, tapi...





...Atsumu—"










Iris pemuda pirang itu bergetar, saat matanya menangkap tatapan itu— saat Kiyoomi menolehkan kepalanya, memandang Atsumu dengan cara yang tak pernah ia gunakan sebelumnya.













Itu tatapan orang putus asa.



























"—kalau sama saya cuma buat kamu terluka, kalau sama saya cuma buat kamu kecewa...






...akan lebih baik kalau kamu gak sama saya."



















DEG




























Dan Atsumu merasa seperti dilucuti dengan sempurna.

Seperti kepalanya di tembak saat itu juga.








".........................ha?"















Secara tanpa sadar, Atsumu terlalu fokus pada perasaannya, hingga ia melewati satu hal yang paling penting—

Bahwa Kiyoomi juga punya perang batinnya sendiri.








Melihat Atsumu kecewa untuk hal hal yang tak disadari dia lakukan menimbulkan perasaan abstrak dalam dirinya. 

Dia tidak pernah bermaksud membuat Atsumu merasa kurang dihargai, dia tak pernah bermaksud menyia-nyiakan usaha pemuda ini— dia hanya melakukan apa yang biasa dia lakukan, yang tanpa sadar membuat Atsumu terluka.

Semua sikap dinginnya, semua perilaku acuhnya bukan dimaksudkan untuk melukai siapapun. Masalalu yang membentuknya. Dia biasa hidup seperti itu— sampai semua perilakunya membuat Atsumu menangis,






...dia baru sadar bahwa dia melakukan kesalahan.
















Ya, sejak awal Atsumu tidak bersalah.





Kiyoomi lah masalahnya.




















Jadi Kiyoomi pikir, ia hanya tak ingin Atsumu bertahan lebih lama dengan orang sepertinya. 





















"Saya gak tahan liat kamu nangis karena saya, karena hal hal yang saya gak tau apa salahnya. Saya gak tahan liat kamu kecewa karena perilaku aneh saya. Saya gak bisa, Atsumu. Saya sudah mencoba bertahan semampu saya dan ternyata saya masih gak bisa— saya minta maaf,"



"—saya minta maaf karena gak bisa jadi apa yang kamu inginkan."






























Oke,










Atsumu paham sekarang











Dia ditolak.

Secara lugas dan tegas.




























"Hah— hahahahah! Ahahahahahahahahhah!!"


























Satu satunya respon yang bisa diberikan Atsumu atas semua itu hanyalah suara tawa yang keras, namun hambar. Kepalanya mendongak, menatap langit sore dan masih tertawa keras. Seolah apa yang Kiyoomi katakan hanyalah lelucon baginya.






"Hahahahahahah— aduh, pak— bapak tau gak, kalo apa yang bapak bilang itu—"



Dan dari menatap langit, mata Atsumu bergulir, masuk tepat kedalam iris milik si pria ikal,

"—adalah cara paling jelek buat nolak orang."























Sesuatu dalam diri Kiyoomi ikut runtuh, saat Atsumu masih menatapnya dengan pandangan yang tak dapat ia definisikan. Bibirnya tersenyum seperti sisa lelucon itu masih menggelitiknya. Tapi, matanya bergetar. Jelas sedang menahan sesuatu agar tidak luruh didepan Kiyoomi.





"Atsumu, tolong pahami apa yang ingin saya katakan. Kamu terlalu berharga untuk disakiti orang seperti saya. Apa yang saya bilang bukan bentuk penolakan, saya mau lihat kamu bahagia, saya mau lihat kamu—"





Apapun yang ingin Kiyoomi katakan, Atsumu sudah tidak ingin mendengarnya. Dia mengangkat satu telapak tangan, meminta Kiyoomi berhenti.


"Saya udah paham. Bapak gak perlu jelasin apa apa lagi." 





Tidak ada air mata saat itu. Otak Atsumu seperti terlaku syok untuk sekedar memberi perintah menangis. Yang ia lakukan hanya berdiri, menarik nafas dalam dalam tanpa sedikitpun melihat kearah Kiyoomi.



"Intinya saya udah ditolak. Bapak gak mau sama saya karena satu dua alasan.  Oke, saya ngerti," katanya, "...saya juga sebenernya ngajak bapak ketemu untuk ngasih bapak kesempatan jelasin, tapi ternyata semuanya emang udah jelas dari awal, cuma saya aja yang masih denial. Jadi, yaudah—





—berarti semuanya udah selesai, kan?"





Sekali lagi Atsumu mengehela nafas keras, seperti berusaha menenangkan dirinya sendiri



"Yahh seenggaknya saya udah bener bener memperjuangkan bapak sampai akhir," katanya, "...jadi itu udah cukup untuk saya."



Kali ini Kiyoomi yang terdiam. Pria dengan penampilan acak acakan itu masih menatapi punggung Atsumu yang seolah sudah tak sudi memandangnya.









"Hahhhh sorenya cerah, ya? Senjanya bagus banget," ujar pemuda pirang itu kini mendongak kearah langit sore, 

"...saya juga berharap setelah ini bapak bisa dapet orang yang bisa memahami perilaku bapak, dan gak buat bapak ngerasa jadi orang aneh lagi."






Tanpa menoleh sedikitpun kearah Kiyoomi, Atsumu berjalan menjauh dari bangku taman itu. Seperti prajurit yang telah kalah, dan tak ingin lagi melihat tempat bekas pertempurannya.





Ada sesuatu dalam diri Kiyoomi yang kembali ingin meraih tangan lembut pemuda itu lagi, mendekapnya dan meminta maaf karena selama ini kehadirannya hanya membawa rasa sakit. Tapi, dia tidak bisa. Atsumu tidak ingin lagi disentuh olehnya.






"Pak Omi tau gak..."


Namun sebelum jarak diantara mereka semakin jauh, Atsumu kembali berucap sesuatu yang membuat Kiyoomi menoleh




"...saya gak pernah bayangin bakal ngomong ini ke bapak, tapi...






















...i almost wish—"



































Kelopak mata Kiyoomi melebar, saat tak diduga Atsumu akhirnya berbalik



Tersenyum padanya,




..yang terasa seperti ucapan selamat tinggal.









"—i had never met you."














Dan itu... Adalah kalimat terakhir sebelum Atsumu meninggalkannya.
















*








Now listen:
Bernaung — Feby Putri




;— "Bernaung di tempat yang lagi lagi kau orangnya..."































Kosong.





Tidak ada yang Atsumu pikirkan sepanjang jalan dari taman kota menuju kosannya.

Beberapa kali ia terjatuh karena tak sengaja menabrak orang atau tersandung barang. Tapi Atsumu tidak peduli. Lecet di sikunya sama sekali tidak ada bandingan dengan luka di hatinya.

Di hadapan Kiyoomi tadi ia sama sekali tidak meneteskan air mata. Bukan karena tak ingin, tapi karena ia tak bisa. Ia tak boleh.

Kiyoomi bilang melihatnya menangis membuat pria itu merasa bersalah. Jadi, Atsumu tidak ingin membuatnya merasa buruk lebih jauh lagi.






Yah, bahkan sampai akhir pun... Atsumu masih tidak bisa membenci Kiyoomi.






















"TSUMUUUU!!!!"














Kekosangan dalam mata pemuda pirang itu tergoyah paksa saat mendengar suara seseorang yang meneriaki namanya. Perlahan ia mendongak, melihat si pemilik suara—

—yang sebenarnya sudah jelas Atsumu tau siapa orangnya.







Oikawa berdiri disana, tepat didepan pintu masuk gerbang kosannya.

Pemuda itu pasti kesulitan datang kesini, mengingat masa nifasnya belum sepenuhnya berakhir, juga luka jahitan bekas operasi itu pasti masih terasa ngilu saat digerakkan.

Tapi, Oikawa berdiri disana. Seolah siap untuk menyambut kepulangannya.




















"Ngapain lu disini? Emang udah boleh jalan jalan ya?"

Dengan santainya Atsumu menghampiri pemuda satu anak itu. Berdiri tepat didepannya.

Oikawa tidak menjawab apa apa, tapi dari wajahnya jelas dia telah paham apa yang sebenarnya terjadi.




Dia sudah memprediksi bagaimana ujung cerita cinta sahabatnya ini.






"Tsum," panggilnya, sembari menggenggam bahu pemuda pira itu,


"...gua udah pernah bilang, kan? Apapun yang terjadi—












lu tau kalo lu punya gua."
























Dan— seperti semua kepura-puraan yang Atsumu pertahankan ikut luruh semuanya,


..bersamaan dengan detik Oikawa memeluknya.












Ia hancur saat itu juga.













"HUAAAAA IKKKKKKK HIKS IKKKKKK....."














Akhirnya Atsumu menangis keras dipelukan sahabatnya.




Air mata yang ia larang untuk turun, kini jatuh seluruhnya—


—di tempat paling aman setelah pundak mamah dan papahnya.












"IKKKKK— HIC, GUA— HIC, HATI GUA SAKIT BANGET IKKKK HUAAAAA...."



"Iya iya, gua paham..."



"Pak Omi— HIC, HUAAAAAA... PAK OMI JAHAT BANGET, IKKKK... DIA JAHAT BANGET SAMA GUA, HICHUAAAAA....."








Seolah semua yang berusaha iia tahan runtuh saat itu juga, Atsumu menangis se keras kerasnya.

"Iya iya, gua minta maaf gak ada disana waktu lu butuh. Maaf, ya, maaf..." 

Oikawa hanya bisa mengeratkan pelukannya, membiarkan dirinya ikut menangis bersama segala luka yang Atsumu tanggung hari ini.






"Gua gak mau ketemu dia lagi— hic, GUA GAK MAU KETEMU DIA LAGI IKKKKK....."


"Oke, kita ga bakal ketemu dia lagi, ya? Janji."








"HUAAAAA IKKKKKKK..... HIKS— HUAAAAAAA....."













Senja sore ini begitu indah.




Warnanya cerah, tak ternodai mendung sedikitpun.







Tapi, dibawah langit senja yang indah itu— Atsumu menangis begitu keras.








Menangisi kekalahan dari sebuah 'perang' yang memang sejak awal mustahil ia menangkan.









End.


Postingan populer dari blog ini

TWO BOYS ARE LOST IN THE CHAPEL (Part 2)

TWO BOYS ARE LOST IN THE CHAPEL (Part 1)