A Boy Crying In The Twilight (Part 1)
TOK TOK TOK!!
"Masuk."
Pintu jati bercat putih yang semula diketuk dari luar itu terbuka, membawa seorang pemuda dengan surai pirang yang warnanya mulai luntur itu masuk kedalam ruangan berhiaskan ornamen khas kamar bayi dengan ayunan disudutnya.
Baru beberapa langkah, Atsumu bisa melihat sahabat yang ia kenal sejak SMA tengah terduduk diatas ranjang, dengan dada terbuka dan seorang bayi laki laki mungil dipangkuannya. Oikawa sedang memberi makan anaknya.
Senyum si pemuda pirang itu seketika merekah, "udah mulai mau breast-feeding ya?"
Oikawa, yang tengah fokus menatap bayi usia kurang dari 1 bulan itu mengalihkan pandangan sejenak, beranjak ke Atsumu. "Udah mulai gak sakit jadi gua coba langsung aja. Ribet ah kalo mau pumping terus."
Di sebelah ranjang tempat Oikawa ada kursi, duduklah Atsumu disana. Tangan yang semula menggenggam sebuah paper bag ia letakkan diatas nakas,
"Tuh, Sour Sally yang lu idam-idamkan seminggu ya lalu. Suami lu minta gua yang anter karena katanya blio masih ada meeting sore nanti," jelas Tsumu, "..lagian lu ngadi ngadi banget masa nifas malah kepengen jajan mulu."
Oikawa melirik tak terima, "heh lu pikir nyusuin bayi gak butuh banyak tenaga?? Bayangin gua kebangun tiap jam 2 malem terus nenen gua dibuat lecet, pedes, sakit LU PIKIR GAMPANG?? Gua butuh sesuatu biar mood gua bagus terus!"
Atsumu diam. Dalam hati dia sebenarnya bersyukur karena melihat sahabatnya ini sudah kembali ke mode maungnya— yang artinya Oikawa sudah baik baik saja.
Setidaknya setelah 10 hari terpuruk karena kematian satu bayinya dan 10 hari koma, pemuda surai coklat susu itu sudah mulai bisa menerima keadaan dan mengikhlaskan segalanya.
Dari Oikawa, pandangan Atsumu beralih ke bayi yang sedang kuat menyusu itu. Kalau dipikir, ketimbang Oikawa rasanya anak ini lebih mirip Ushijima. Memang sih surai coklatnya keturunan Oikawa sekali, tapi selebihnya dia mewarisi penampilan Ushijima Wakatoshi. Bentuk bibir, hidung, hingga warna matanya— semuanya punya Ushijima.
Atsumu jadi kasian pada Oikawa.
"Kenapa lu belum balik tinggal sama pak Jim?"
Tanya Atsumu
Memang, setelah melahirkan, banyak hal terjadi dalam hidup Oikawa Tooru. Mulai dari kehilangan satu bayinya yang menyebabkannya stress hingga berkembang menjadi baby blues dan postpartum depression . Hal itu memicu Oikawa melukai dirinya sendiri yang berujung pingsan dan koma hingga harus dirawat di rumah sakit lebih lama.
Tsumu tidak tau apa yang terjadi selama Oikawa koma, tapi yang pasti, setelah bangun dia jadi mulai menerima kehadiran satu bayinya yang tersisa. Dan keadaan nampak mulai membaik...
Kecuali satu,
Oikawa belum ingin kembali tinggal bersama Ushijima.
Jadi, hingga hari inipun setelah satu bulan bayi itu lahir, pemuda itu masih tinggal bersama orangtuanya dirumah lama.
Mendengar pertanyaan Atsumu, butuh waktu beberapa detik sebelum Oikawa menjawab,
"Gua juga gak tau," katanya, "gua kayak masih butuh waktu lebih sebelum balik tinggal sama dia. Gua masih ngerasa bersalah karena gak bisa pertahanin satu anak kita,"
"..tapi, yah... Gua rasa gak lama lagi gua bakal balik tinggal sama mas Toshi sih. Gak enak juga jirr lama lama ngerepotin ayah bunda mulu," tambah Oikawa,
Kini ia melirik balik. Menatap Atsumu,
"Lu sendiri gimana?" tanyanya
"Hm? Gimana maksudnya?"
"Hubungan lu sama pak Omi," ucap Oikawa, "..gimana jadi perkembangannya?"
Dan mendengar satu nama yang akhir akhir ini selalu ditanyakan orang orang bikin Atsumu jadi kehilangan kata kata,
Pemuda pirang itu malah terkekeh pelan. "Perkembangan apa ye gila emang dari dulu pernah berkembang??"
"Bukan gitu, maksud gua lu udah ketemu atau ngobrol sama pak Omi lagi belum? Sejak pesta pernikahan mas Juna itu lu belum pernah coba ketemu pak Omi lagi kan?" Oikawa mencoba mengingat, "..bahkan yang pas dia masuk rumah sakit gegara abis digebukin Osamu juga lu gak dateng, kan?"
"Ya ngapain juga gua dateng Ik? Ada atau enggaknya gua gak akan berpengaruh apa apa buat dia."
Dengar jawaban yang tak seperti Atsumu biasanya itu membuat Oikawa makin memincingkan mata curiga. Pandangannya semakin menajam,
"Tsum," panggil Oikawa
"...lu belum cerita apa apa ke gua soal malem pesta pernikahan itu."
Yang ditanya kembali diam.
Benar.
Atsumu memang tidak pernah menceritakan apa yang terjadi di malam itu pada siapapun. Tentang gadis bernama Emma yang mengaku 'cinta masa lalu' Kiyoomi, tentang perlakuan tidak senonoh yang Kiyoomi lakukan padanya, ataupun tentang bagaimana akhirnya Atsumu mempertanyakan perasaannya sendiri.
Tidak ada yang tau. Atsumu mengubur semuanya dengan rapih.
"Gak ada apa apa Ik," jawabnya, masih kekeh menegaskan bahwa semua baik baik saja, "..gua gak cerita karena ya emang gak terjadi apa apa. Semuanya lancar."
Tapi Oikawa tidak percaya,
"Bohong. Gak mungkin kalo gak terjadi apa apa lu bisa berubah se drastis ini, Tsum," sanggahnya, "..gua temenan sama lu gak sehari dua hari, dan gua tau kalo lu lagi nyembunyiin sesuatu sekarang."
Lagi lagi, Atsumu diam. Ada sebagian dari dirinya yang malas berdebat dengan Oikawa, dan sebagiannya lagi— karena dia memang tidak ingin mengingat tentang apapun yang terjadi di malam pesta pernikahan itu.
"Tsumu,"
Lagi lagi Oikawa memanggilnya, kali ini dengan jeda yang agak lama
Jeda yang seolah memaksa Atsumu untuk mendongak hingga irisnya bertemu dengan tatapan Oikawa
Seolah pemuda surai coklat itu memang berniat untuk 'mengulitinya' hari ini.
"Lu udah nyerah, ya?"
Satu pertanyaan, tapi itu cukup membuat otak Atsumu berhenti bekerja seketika.
*
"Lu udah nyerah, ya?"
Bahkan sampai Atsumu pamit dan melangkah keluar dari rumah orangtua Oikawa, pertanyaan sederhana itu masih menempel dikepalanya.
Menyerah? Apa benar dia akhirnya sampai pada kata 'menyerah'?
Selama satu bulan lebih ini Atsumu memang telah memblokir semua yang berhubungan dengan dosen Ekonometrika itu dan mencoba menghindarinya sebisa mungkin. Dia bahkan memutuskan pindah kosan ke tempat yang agak jauh dari kampus, hanya untuk berjaga jaga jika Kiyoomi berusaha menemuinya.
'Kiyoomi berusaha menemuinya'? Ya, Atsumu yakin itu. Tapi Atsumu mengerti, si pria ikal berusaha menjangkaunya bukan untuk menyadari kesalahannya— Kiyoomi hanya mengikuti arogansinya, hingga dia tidak bisa membiarkan Atsumu pergi begitu saja.
Selama masa itulah Atsumu berpikir ulang tentang dirinya, tentang perasaannya dan segala yang telah ia lakukan untuk membuktikan cintanya— yang pada akhirnya tidak memiliki dampak apapun terhadap Kiyoomi.
Yah, kalau dipikir lagi... Sejak awal Kiyoomi memang tidak pernah meminta Atsumu untuk menyukainya. Itu semua keputusan Atsumu, dan dia yang akan bertanggungjawab hingga akhir.
Jadi kalau hubungannya dan Kiyoomi perlu berakhir, maka Atsumu yang harus mengakhirinya. Karena dia yang memulai semuanya.
Tepat setelah keluar dari pintu gerbang rumah orangtua Oikawa, pemuda pirang itu berhenti melangkah.
Ia menarik nafas dalam dalam, memenuhi dadanya yang terasa sesak dengan udara segar, berharap itu bisa membantu menguatkan tekad yang akan ia pilih.
Lalu, dengan satu gerakan Atsumu merogoh kantong celana jeans nya, mengeluarkan ponsel dan mencari sebuah nomor yang berada dalam daftar 'blokir', lalu membukanya.
Atsumu tau ini bukan seperti saat ia meminta putus dengan pacar pertamanya karena alpha itu ketahuan selingkuh, ataupun saat ia akhirnya mundur dari sebuah circle pertemanan karena ternyata mereka suka mengolok-oloknya dibelakang.
Tidak. Kali ini rasanya jauh lebih berat.
Karena Atsumu bukan hanya harus melepas seorang pacar, bukan hanya harus melepas seorang teman—
—dia akan melepas cinta pertamanya.
Orang yang ia temukan saat usianya masih 7 tahun, yang memberikannya hadiah kecil sebagai bentuk ucapan perpisahan, yang membuatnya merasa aman, yang membuatnya belajar banyak hal.
Dia akan melepaskan perjuangan 14 tahunnya.
Tangan lentik Atsumu bergetar kecil, saat ia mulai menekan huruf huruf diatas keyboard dalam roomchat Kiyoomi. Merangkainya menjadi kata, dan dari kata menjadi kalimat.
Sebuah kalimat yang menjelaskan semuanya.
Atsumu memejamkan mata sebelum menekan tombol send. Jantungnya berdetak begitu keras seperti akan meledak ditempat.
Sebuah suara dalam diri Atsumu berteriak untuk memberi Kiyoomi kesempatan, tapi— bagaimana hancurnya Atsumu di malam itu, saat semua kepercayaan hilang dari dalam dirinya— ketika ingatan itu muncul, seketika kesempatan untuk Kiyoomi juga menghilang.
Perdebatan agak panjang dalam batinnya terjadi. Berulang kali ia menghapus pesan tersebut dan mengetiknya lagi, terus menerus sampai Atsumu menemukan kalimat yang benar-benar pas dengan pikirannya.
Dan pada akhirnya ia menekan tombol 'kirim'. Membuat pesan itu sampai ke seberang.
Pemuda itu tak tahan, kakinya seperti lemas hingga membuatnya berjongkok dipinggir jalan. Atsumu benar benar seperti dilucuti. Semuanya diambil darinya. Cintanya, akal sehatanya bahkan kepercayaan dirinya seolah direbut paksa.
Dia terduduk disana, dengan kedua tangan memeluk kepala.
"Maaf, maaf... Maafin aku..."
Merancau maaf, tak jelas pada siapa.
"Maaf... Maaf, maaf, maaf..."
Sore itu, dibalik pelukan tangannya sendiri Atsumu menangis.
Ia merasa telah kehilangan dirinya. Kehilangan segalanya.
Karena...
Jika saja andai ada yang melihat roomchat dan pesan apa yang dikirim Atsumu untuk pria diseberang sana, maka semuanya pasti akan jelas—
Bahwa kata maaf itu ditujukan Atsumu bukan untuk Kiyoomi,
...tapi untuk dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya,
—Atsumu tetap ingin memberikan Kiyoomi kesempatan terakhirnya.
Tbc...