TWO BOYS ARE LOST IN THE CHAPEL (Part 1)

— TWO LOST BOY IN CHAPEL (Part 1)







Oikawa hanya menopang dagunya diatas meja. Mata cantiknya dengan malas menatapi kelakuan si pemuda pirang yang saat ini tengah berdiri didepannya— dengan satu tas penuh berisi roti O...





...pemberian tidak terduga dari Kiyoomi.




Dengan ponsel ditangan dan kamera menyala, Atsumu masih mengambil gambar sebanyak mungkin dari jajaran roti O' itu. Menatanya dengan rapih, seolah hadiah sederhana itu adalah sesuatu yang begitu berharga baginya.



"Elah Tsum, sekelas roti aja lu potonya udah kayak dikasih berlian. Makan aja sih, nanti juga jadi tai." 

Dengan ketusnya Oikawa berkomentar. Bukannya apa-apa, tapi... Dia sejujurnya agak kasihan. Atsumu telah memberi Kiyoomi banyak hal— makan siang, buah atau sekedar jajanan manis untuk pria itu di setiap siang. Bukankah sudah sewajarnya kalau Kiyoomi balas memberi sesuatu?



Tapi, ini hanya tumpukan roti. Siapapun bisa membelinya. Jadi kenapa itu terasa istimewa?




Namun mendengar ucapan sahabatnya, si pemuda pirang hanya tertawa kecil. Menggaruk tengkuk yang tidak gatal...




"Ya tapi— gimanapun ini dari pak Omi, ik, hehe... Gua cuma seneng aja dia ngasih hadiah dadakan, jadi gua mau inget saat saat ini sebanyak mungkin eheheh EMANG NGAPA SIH JANGAN SEWOT AH!"

Oikawa masih terdiam. Matanya mengerjab beberapa kali, menatap Atsumu dengan pandangan yang sulit diartikan...


"Tsum,"

"APA LAGI?"




"Gua kok ngerasanya kayak lu lagi siap siap, ya?"





Atsumu terhenti dari kegiatan memotretnya. Ponsel yang semula ia angkat diatas wajah kini turun perlahan. Kepalanya menoleh, menatap balik Oikawa. "Maksudnya?"

"Ya...lu kayak orang yang lagi siap siap," lanjut si pemuda surai coklat, menegakkan tubuhnya kembali,

"...kayak— lu lagi ngumpulin sebanyak-banyaknya hal yang bisa lu kenang, yang bisa lu simpan. Biar nanti saat lu kangen momen ini, lu tau harus cari kenangan itu dimana..."

"...seolah lu tau hubungan ini gak akan berhasil."







Ah...



Apa benar begitu kelihatannya?


Bibir Atsumu terkatup kembali. Raut ceria dan bersemangat yang biasanya pemuda itu tampilkan, kini hilang entah kemana—





—Seperti itu hanyalah topeng yang ia pasang untuk menutupi keadaan hati yang sebenarnya.

















***
















Bisa dibilang, Miya Atsumu adalah tipe orang yang tidak punya lingkup pergaulan luas. Dia menyenangkan, lucu dan pandai menghibur, tapi tidak banyak orang yang ingin membangun hubungan jangka lama dengan omega lelaki, seperti berteman misalnya.

Jadi, menghadiri pesta pernikahan merupakan sesuatu yang langka. Ia tidak yakin apakah baju yang ia bawa untuk besok sudah cukup baik. Ia tidak yakin apakah Kiyoomi akan menyukai penampilannya, karena— ini pertama kalinya Atsumu dibawa oleh seseorang untuk menjadi +1.

Berdiri didepan gerbang kosan dengan ransel dipundaknya, Atsumu tidak bisa berhenti menggerakkan kakinya dengan gugup, menunggu Kiyoomi datang menjemput.

Oikawa bilang bahwa sebagian besar keluarga Kiyoomi itu baik. Yah, Atsumu sudah pernah bertemu mommy nya dan hanya hal menyenangkan yang terjadi. Seharusnya ia tak terlalu nervous kan?

Tapi... Bagaimana kalau ia mengacaukannya?

Memiliki 3 mantan kekasih bukan berarti ia berpengalaman menghadapi keluarga mereka. Selama menjalin hubungan, Atsumu bukan tipe orang yang akan diperkenalkan pada keluarga pasangannya. Mereka lebih suka menyimpan Atsumu untuk diri mereka sendiri, jadi ketika putus tidak terlalu merepotkan. 

Itu membuat sebuah ketidakpercayaan besar pada dirinya sendiri. Apa yang harus ia lakukan untuk membuat keluarga Kiyoomi terkesan? Apa yang bisa seorang omega laki-laki lakukan untuk membuat ia diterima?

Tiba-tiba ditengah menunggu jemputan, Atsumu merasa begitu kecil. Ia merasa tak cukup baik. Ia merasa tak cukup pantas untuk—








TIN TIN!








Sebuah klakson mobil membuyarkan lamunan pemuda pirang itu. Eh, kapan tepatnya mobil HR-V khaki ini terparkir didepannya? Apa Atsumu terlalu mendalami pikirannya sampai tak sadar Kiyoomi telah datang?

Tidak ada pintu yang dibukakan, Kiyoomi rasanya tidak sudi mengotori sepatu mahalnya hanya untuk turun. Seperti biasa, Atsumu menarik kenop pintu mobil diseberang kemudi sendiri dan— raut wajahnya langsung berubah. Tak ada lagi Atsumu yang anxiety ataupun overthinking. Yang ada hanya Atsumu yang dipenuhi kebahagiaan.







"Selamat sore pak Omi yang ganteng, nguehehehe. Udah siap banget kayaknya mau perjalanan jauh sama saya yaa?"

Dan, seperti biasa pula... Kiyoomi yang nampak bak pahatan patung dewa yunani itu mendecak pelan. Seolah tak pernah suka digoda seperti tadi.

"Tasnya taro belakang." Hanya itu yang dikatakannya, sebelum mobil melaju meninggalkan gerbang kosan.







Diperjalanan, musik Coldplay melantun mengisi keheningan. Kiyoomi fokus pada jalanan, dan Atsumu fokus pada sesuatu yang abstrak didalam pikirannya. 

Sebelum suara sang alpha memecah itu semua.

"Ini kita langsung lanjut sampai Jogja, gak nginep di hotel dulu." Katanya

"Oh, gitu pak? Oke saya ngikut aja."

Perjalanan dari Depok ke Jogja memakan waktu semalaman, jadi Kiyoomi memutuskan untuk berangkat sore sehingga subuh mungkin sudah sampai. Tadinya Atsumu ditawari untuk berangkat bersama Oikawa dan suaminya, karena katanya mereka mau singgah dulu sebelum lanjut. Tapi Atsumu masih cukup waras untuk gak se hotel sama dua orang mesum itu. Dia menolak jadi nyamuk.

"Kamu keliatannya tegang banget? Santai aja," ucap Kiyoomi, tiba-tiba, "...acaranya mulai jam sembilan pagi, jadi kamu masih ada waktu istirahat dan siap-siap."

Atsumu mengerjab. Ah, mungkin Kiyoomi belum sepenuhnya memahami kebimbangan si omega. Atsumu bukannya mengkhawatirkan fisiknya yang lelah karena perjalanan— pemuda itu hanya tengah bergelut dengan batinnya.

"Pak," 

"Hm?"

"Kira-kira respon apa yang bakal dikasih keluarga bapak waktu liat saya?"

Lelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Atsumu memberanikan diri bertanya. Kata mamahnya, orang yang malu bertanya akan tersesat dijalan... Tapi,

Ternyata bertanya pada Kiyoomi pun tak mengurangi kegugupannya sama sekali. 

Malah, jawaban pria 29 itu membuatnya makin kalut.





"Respon apa?—

emangnya itu penting, ya?"




Dan sejak detik itu juga Atsumu berhenti bicara. Pikirannya kosong.

Ah... Jadi, kekhawatirannya selama ini— bukanlah hal yang penting untuk Kiyoomi.








*










"TOORUUUU!!!"

Menjadi pasangan Ushijima Wakatoshi memberi Oikawa keuntungan untuk mengenal dan lebih dekat dengan keluarga besar Sakusa. Karena bagi mereka, Ushijima merupakan semacam penyelamat saat Kiyoomi berkuliah di luar negeri, menjadikan orang yang dipilih Ushijima juga otomatis jadi spesial di mata mereka.

"OM ETAAAA!!!"

Ethan, Sakusa Ethan adalah satu-satunya omega laki-laki di keluarga ini. Ia merupakan adik bungsu dari Daddy Kiyoomi.

"Sehat banget kelihatannya, Tooru. Udah jalan berapa inii?" Setelah pelukan singkat, pria 40 tahunan itu bertanya sembari mengelus perut Oikawa yang kian membesar.

"Udah 8 bulan. Lagi sambil persiapan nyari-nyari rumah sakit yang cocok, hehe..."

"Seneng dengernya Tooru mau kedatangan bayi kembar juga, hehe," kata pria itu antusias, "..mau om mintain rekomendasi rumah sakit yang bagus untuk persalinan omega laki-laki sama mas Tsukasa?"

Ah, benar. Ayahnya Iizuna itukan dokter. Jelas dia tau banyak RS ternama, khususnya untuk persalinan omega.

"Wah, bakal berguna banget om. Makasii..."

"Oke nanti detailnya om kirim lewat chat ya, cantik.."

Bukan rahasia umum bahwa Oikawa begitu disayang disini. Padahal keluarga Sakusa pertama melihatnya saat pemuda itu dibawa Ushijima untuk liburan ke Bali, dan secara ajaib semua orang disana menyukai Tooru (kecuali Kiyoomi).

Di pesta pernikahan Iizuna dan Shion yang ramai ini, setiap orang berkumpul. Saling bersalaman dan memeluk. Mengucapkan selamat pada pengantin dan mendoakan untuk kelangsungan pernikahan mereka.

Semua orang tampak akrab, semuanya tampak saling mengenal...

...kecuali pemuda pirang yang daritadi hanya berdiri didekat prasmanan. 

Setelan jas berwarna cream dan dasi coklat tua menempel di tubuh Atsumu dengan apik, Sachiro lah yang memilihnya. Kata si mahasiswa FKH, itu yang paling pas dengan tone kulit Atsumu. Sachiro juga bilang Atsumu lebih cerah ketika memakai baju berwarna cream.

Ya, sebuah saran yang bagus, meski sia-sia. Karena Kiyoomi sama sekali belum melirik penampilannya pagi ini.

Ia dan Kiyoomi sampai pada pukul 4 pagi dan hanya disambut Tante Lingxie (mommy Kiyoomi). Bahkan perempuan itu sempat meminta maaf pada Atsumu belum sempat memperkenalkannya pada anggota keluarga yang lain karena semua orang sedang sibuk pagi tadi.

Beda dengan Oikawa dan Ushijima yang seolah mengalir begitu saja, Atsumu tidak tau harus memulai darimana. Jadi ia hanya berdiri diam, menatap punggung Kiyoomi yang berbalut rompi tuxedo merah tua dan kemeja putih panjang tergulung 1/3 lengan. Mereka sempat berpisah saat akan bersiap mengganti pakaian, dan berjanji akan bertemu di venue.

Tapi, sesampainya Atsumu disini pria itu malah sibuk berbincang dengan para kerabat. Atsumu tidak punya pilihan lain selain menunggu Kiyoomi memanggilnya dan memintanya berbaur. 






"Omega, ya?"

"HUAKKK!!!"

Sumpah. Atsumu nyaris menendang siapapun yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuhnya, dan mengejutkannya. Tapi, saat makian sudah sampai di tenggorokan, secara spontan itu tertelan lagi melihat dua makluk kecil bergaun jingga dan ungu berputar-putar di kaki nya.

"Kakak omega, ya? Kakak omega, kan? Omega omega..." Gadis kecil berusia 3 tahunan bergaun ungu itu terus menepuk kaki Atsumu, menebak (atau lebih tepatnya memaksakan pendapat) bahwa secondary gender pemuda tinggi dihadapannya ini adalah omega.

"Caca, kata papi ndak boleh tebak tebak orang sembarangan!" Peringat si gadis kecil bergaun jingga.

Yang diperingati merengut, "tapi bener kok kakak ini pasti omega, soalnya—

wanginya enak. Caca suka!"

Pujian yang begitu tiba-tiba membuat Atsumu tidak tau harus bereaksi apa. Ia sudah meminum obat yang dapat menekan aromanya agar tak keluar sembarangan. Mungkinkah— masa heat nya telah datang? Tidak mungkin. Ia baru menyelesaikan itu tiga minggu kemarin di rumah.

"Gendong, gendong! Mau gendong!" 

DAN SEKARANG ANAK INI MERENGEK MINTA GENDONG?

Bukannya Atsumu tidak mau, ia hanya bingung. Benar-benar bingung. Ada beberapa orangtua yang tidak ingin anak mereka disentuh orang asing dan Atsumu paham alasannya. Jadi, jika anak ini yang merengek minta di gendong begini— apa yang harus dia lakukan?

"Gendongg kakak gendonggg...!"

Osamu selalu bilang dia iri dengan bakat Atsumu yang bisa jadi magnet penarik anak kecil dimanapun dia berada. Tapi, jika situasinya begini, Atsumu malah takut disangka orang aneh yang menggendong anak sembarangan.

Cuma— dia tak punya pilihan lain, kan?





"I-iya oke oke kakak gendong yaa... Yuk yuk sama kakak yuk!"

Akhirnya dia menggendong anak gempal bergaun ungu tersebut.




"Nama kakak siapaa?" Tanya si gadis kecil

"Atsumu. Nama kamu siapa?"

"Caca!" Serunya, lalu menunjuk saudara kembarnya, "..yang itu Tata! Kami kembar, bedanya Tata judes, Caca baik hati!"

"Caca turun! Nanti aku aduin Bli ya!?" Seolah tak terima dikata judes, gadis bergaun jingga menuding balik, "..gak boleh minta gendong sembarangan, nanti kamu diculik!!"

Atsumu hanya meringis. Apa memang semua kerabat Kiyoomi punya tipe mulut yang tajam? Tapi yah, si Tata ini jelas terlihat lebih rasional daripada Caca yang menyukai orang hanya dari aroma mereka.








"Astaga, Bli cari kalian dari tadi, ada disini rupanya???"

Lalu, tak lama suara seorang pemuda dengan logat Bali yang khas terdengar. Atsumu menoleh dan menemukan anak laki-laki lebih pendek darinya datang dengan tipe pakaian yang sama dengan yang dikenakan Kiyoomi. Rambut pemuda itu warna coklat, mirip tetapi lebih muda dari Oikawa.

Ia tampak terkejut kecil saat matanya menangkap sosok Atsumu.

"Bliiiii!!!" Gadis kecil bergaun jingga lari, memeluk kaki orang yang ia panggil 'Bli' sebelum naik ke gendongan pemuda itu.

Atsumu tersenyum canggung. Ah, dia pasti orang yang tadi disebut-sebut sebagai tempat mengadu.

"Ah, haloo... Saya Atsumu. Maaf bukan bermaksud lancang, tapi Caca yang minta gendong, jadi saya pikir kalo ga digendong takutnya nangis, hehe. Maaf, maaf.."

Pemuda itu mengerjab beberapa saat, "eh gak papa... Caca emang gampang akrab sama orang lain. Gak papa, gak papa..." 

Ada yang menggantung di kata-kata si anak laki-laki. Dia seperti sedang mencari kata yang pas untuk ditujukan pada pemuda tinggi didepannya ini. Atsumu merasa sedang diperhatikan dari kepala sampai kaki.






"Jadi— kamu yang namanya Atsumu."






Atsumu tidak tau, apakah anak laki-laki itu barusan hanya bergumam atau memang memberitahunya, tapi ucapan pelan bagai bisikan barusan membuat si pemuda pirang membeku sejenak.

'Jadi kamu yang namanya Atsumu?' Apa maksudnya?





"Gimana?" 

"E—eh gak, gak bukan apa apa, ehehe..." Tawanya hambar, "ah, ngomong-ngomong saya Motoya, adik sepupunya kak Kiyoomi. Kamu kesini diajak kak Omi, kan?"

Atsumu mengangguk pelan, dan ragu.

"Kalo gitu kenapa disini? Itu kak Omi sudah disana duluan. Ayo ikut gabung."

"Gak usah nanti aja—"

Atsumu belum sempat menjawab saat anak laki-laki berlogat Bali itu melangkah kepada kerumunan para pria alpha yang tengah mengobrol serius seolah sedang merencanakan perang dunia.






"Kak Omi!!" Anak tadi tiba-tiba memanggil, 

"..gimana sudah bawa pasangan ndak dikenalkan pada keluarga? Kasian kak Atsumu menunggu disana melompong bingung sendirian, bertanggung jawab lah sedikit."

Atsumu ingin menahan, karena ia tak mau mengacaukan acara bicara Kiyoomi yang nampak serius itu, tapi anak bernama Motoya tadi mengacaukannya. 

Membuat gerombolan para alpha itu berbalik, menatap pada Atsumu— termasuk Kiyoomi.





Ah, sialan.





Seharusnya Atsumu sudah tau bahwa pria ikal itu punya wajah dan porsi tubuh yang begitu menawan, Atsumu harusnya tau dengan jelas tapi... 

..tapi kenapa lagi lagi saat Kiyoomi berbalik, jantungnya berdenyut tak nyaman seolah ini pertama kalinya ia mengagumi si sosok pria 29 tahun? Rompi tuxedo yang nampak ketat dibagian dada itu membuat Atsumu bergetar. Kemejanya tipis, membuat otot-otot si alpha seolah akan meledak tiga detik kemudian jika tidak dilonggarkan. Dan rambutnya— oh, brengsek, itu disisir kebelakang, sangat rapih.



Sakusa Kiyoomi jelas tau caranya membuat Atsumu lemah.







"Oh, udah dateng? Kenapa gak bilang?" Katanya, "...saya nunggu kamu daritadi."

Hancur sudah. Atsumu mimisan sekarang. Gak, bohong. Dia gak se lemah dan se kampungan itu (seenggaknya, belum).

"I—itu....saya gak mau ganggu bap—


—eh, ganggu Mas."









Gila. Itu ide Atsumu yang paling gila.







Memang, saat diperjalanan tadi Kiyoomi memberitahunya untuk tidak memanggil 'bapak' selama di pesta atau didepan kerabat, karena kesannya kurang pantas,

..TAPI ATSUMU TIDAK PERNAH BERENCANA MEMANGGIL KIYOOMI MAS, OKE?!?! 






Itu meluncur begitu saja dari mulut sialannya. Bahkan Kiyoomi yang mendengar pun mengangkat satu alisnya bingung dengan panggilan mendadak itu.

Tolol kamu Atsumu!!! Selesai ini kita bakal di cincang di semur di sambel kecappp aaaaaaa!!!!!







Satu sisi disaat Atsumu masih meratapi tindakan bodohnya yang sembrono, Kiyoomi kembali berpikir keras. 

Apa yang harus ia lakukan pada pemuda yang ia bawa ini? Karena ini pertama kali ia membawa omega dalam acara keluarganya. Kiyoomi rasa keputusannya agak sedikit impulsif karena alasan sebenarnya ia mengikutsertakan Atsumu adalah untuk menghentikan rencana perjodohan yang disusun Daddy nya. 

Apa ia benar-benar ingin membawa pemuda itu kesini? Memperkenalkannya dengan semua anggota keluarga?

"Kok bengong? Nunggu apa itu pumpung lagi pada kumpul di tengah. Ayo kesana."

Suara Motoya memecah suasana aneh itu, mendorong tubuh Atsumu dan Kiyoomi untuk melangkah bersama kearah depan, tempat para keluarga inti tengah berkumpul disekitar pengantin.

Kiyoomi melirik sekilas sosok pemuda pirang yang berjalan disebelahnya sembari menggendong Caca yang tampak nyaman ada dipelukan Atsumu. Mungkin, Atsumu lebih gugup daripada dia. Mengabaikan pikiran pikiran tidak penting, pria ikal itu mencoba membuka topik—

"Ekhm, beda sama mommy, Daddy saya orangnya agak tegas. Bukan bermaksud jahat, tapi peringatan dari sekarang aja biar kamu gak kaget sewaktu ngobrol sama dia."

Atsumu menoleh, lalu mengangguk kecil tanda mengerti.




Ah, jadi dari sana lah sikap dingin serta acuh tak acuh Kiyoomi berasal.






"Tapi— kakak orangnya cantik, pasti semuanya suka kakak!" 

Itu kata Caca, yang masih setia ada digendongan Atsumu.

"Hehe, ya... Semoga, ya?"









*









Caca telah menemukan kesenangan lain, yaitu mengganggu adek bayi dari kerabat ayahnya. Jadi, dia berhenti menggelendoti Atsumu dan kini pemuda itu bisa leluasa mengikuti Kiyoomi kemanapun si pria alpha pergi.

Seperti omega yang patuh.

Keluarga besar Sakusa jelas tipe yang sangat berbeda dengan keluarganya. Atsumu tidak terbiasa dihadapkan oleh orang-orang yang bergerak di bidang ekonomi modern, hukum dan politik. Berdiri disini entah kenapa membuatnya makin merasa kecil. 

Kiyoomi pamit sejenak, bilang akan mengumpulkan keluarganya dan memperkenalkan Atsumu dengan mereka semua (sebagai 'rekan' nya), dan itu hanya membuat si pemuda pirang makin gugup.

Ia tadi sempat sekilas berpapasan dengan Oikawa. Betapa hebohnya pemuda itu melihat sahabatnya ada disini... Tapi, seperti keadaan Oikawa kurang sehat, jadi Ushijima mengajaknya kembali ke hotel dan istirahat sejenak.

Yah, bagaimanapun hanya hitungan minggu sebelum jadwal persalinan Oikawa datang. Dia pasti sedang gugup sekarang. Atsumu hanya berpikir selesai dari acara perkenalan tak resmi ini, dia akan langsung pergi menyusul temannya, karena penting bagi seorang omega yang sedang hamil untuk dihibur. 


"Atsumu!!"

Pemuda yang dipanggil namanya tersentak kecil, saat suara seorang wanita menyapa indra pendengarannya. Ah, itu mommy nya Kiyoomi— diikuti beberapa wajah yang tak Atsumu kenali.

"Ya ampun, you look so georgious!! Cantik sekali warna kemejanya!!"

Ah, apa itu benar? Atsumu awalnya merasa apa yang ia kenakan terlalu berlebihan dan tidak cocok dengan konsep pesta yang santai. Tapi, ketika Lingxie mengatakan ini cantik— dia jadi merasa lebih baik.

"Hehe... Makasih banyak, Tante. Tante juga super cantik hari ini— ah, gak, setiap hari juga Tante cantik."

"Ahahah bisa aja kamu mujinya. Makasih loh... Ini yang milihin Daddy nya Kiyoomi."

Hem, jadi keluarga ini memang punya selera fashion yang baik...



"Sayang! Sayang, kenalin dulu ini yang namanya Atsumu!!"

Dengan semangat, Lingxie menarik lengan pemuda pirang itu, seolah ingin menunjukkan dia pada seseorang yang kini berdiri tepat disebelah Kiyoomi.

Atsumu terdiam sejenak... Matanya mengerjab dengan cepat—





Wow...

Apa yang dia lihat didepannya sekarang jelas adalah orang paling tampan yang pernah Atsumu temui. 









"Oh, ini anaknya."

Daddy Kiyoomi— Sakusa Edward, jelas bukan sembarang alpha. Dia punya aura yang kuat dan menonjol. Meski warna rambut hitam legam Kiyoomi dapatkan dari sang mommy, tapi dua tahi lalat diatas alis jelas berasal dari Daddy nya. Pria itu memiliki tanda lahir yang sangat mirip.

Saat disandingkan, tinggi mereka hampir sama, tapi tubuh Edward jauh lebih besar. Dengan kacamata silver bertengger di hidung bangirnya, begitu cocok saat diselipkan diantara surai emas kecoklatan yang telah dihiasi beberapa helai uban. Tatapan mata dan cara melihat yang sama dengan Kiyoomi— angkuh, dan seolah tak tersentuh.

"Gimana?? He has a beautiful blond hair, aren't he? And he's still twenty one! Oh my God, dia masih muda tapi sifatnya baik sekali, Ed. Serius, kamu harus coba ngobrol dengannya—"

Saat Lingxie terus memuji Atsumu seolah mempromosikan pemuda itu kepada sang suami, Atsumu hanya fokus pada tatapan pria didepannya. 

Dia merasa tengah dipindai, dari atas sampai bawah— seperti sebuah barang yang tengah melewati uji kelayakan.





"Okay."

...dan hanya itu respon akhirnya.

"..pastiin kalian istirahat cukup. Perjalanan cukup jauh kesini."

Alis Atsumu naik setengah. Apa-apaan tuan Sakusa itu? Atsumu pikir dia akan ditanyai berbagai hal terkait hubungannya dengan sang anak, mengingat dia datang sebagai +1 Kiyoomi. Tapi, ternyata tidak. Pandangannya menyelidik, tapi tak ada satupun pertanyaan yang dilontarkan untuknya. 

Sebaliknya, pria berusia 60 an itu hanya mengangguk singkat dan berbalik, melanjutkan urusannya yang mungkin sempat tertinggal karena harus bertemu Atsumu.

"Kamu gak mau ngobrol lebih lama, Ed?"

"Kamu aja," jawabnya pada sang istri, "...i'll trust anything you saying 'bout that boy."

Kiyoomi yang melihat reaksi kedua orangtua nya yang begitu bertolak belakang hanya memasang wajah datar. Seolah ia tak lagi terkejut.

"Hah, dia selalu begini," keluh mommy Sakusa saat jarak suaminya sudah agak jauh, "..tapi, kali ini lumayan. Biasanya Ed sama sekali gak mau ketemu omega lain."

Atsumu yang tak sengaja mendengar gumaman itupun menoleh, "..beliau gak suka omega, Tante?"

"Bukannya gitu," jeda Lingxie, "...cuma, ada sesuatu yang terjadi, dan buat dia cukup 'waspada' sama golongan kita."







"Lingxie,"

Saat beberapa langkah menjauh, pria parubaya itu berbalik lagi, memanggil istrinya.

"Yes, Ed?"

"Dimana Tooru?"









Eh?



"Oh, dia agak gak enak badan, jadi Toshi bawa balik ke hotel untuk istirahat sebentar," Jawab sang istri, "..i'll take care after this. No need to worry, Ed."


Lalu, setelahnya anggukan kecil diberikan sebelum pria itu sepenuhnya hilang diantara kerumunan.

Menyisahkan Atsumu, Kiyoomi dan Lingxie yang masih senantiasa membersamai mereka.

Atsumu mengerjab, dengan pandangan bingung. Apa barusan ayah Kiyoomi menanyakan tentang Tooru? Oikawa Tooru?




Kenapa?








"That's the one of any reason i don't like that boy.

Lalu saat Atsumu mencoba berpikir, sosok Kiyoomi mendekat. Mengatakan isi hatinya tanpa sadar.

"Hush, gak boleh gitu. Tooru lagi hamil besar, wajar kalo semua orang khawatir sama dia." Bela Lingxie.

Yang dibalas dengan putaran bola mata jengah oleh sang putra.



"Bukannya mommy punya banyak kerjaan yang harus diurus? Biar Omi yang lanjut kenalin Atsumu ke lainnya."

Wanita cantik mantan Miss China yang masih menggandeng lengan Atsumu seolah enggan melepasnya itu cemberut saat Kiyoomi mengingatkan bahwa masih ada yang harus ia urus di pesta pernikahan ini.

"Tapi mommy juga mau ngenalin Atsumu ke keluarga kita. Banyak yang mau mommy obrolin dengan nak Tsumu..."

"Ada banyak waktu, mom. Malam nanti kan bisa? Di waktu jamuan juga bisa." 

Benar apa yang diucapkan putranya. Sebagai menantu pertama keluarga, Lingxie harus selalu mendampingi Edward yang akan menghadapi banyak kerabat. Ia tidak bisa memilih untuk terus bersama Atsumu, meskipun ia mau.

"Okey, mommy kalah. Mommy balik ke Daddy mu dulu," ujarnya sembari melepas genggaman di lengan Atsumu, "...kamu harus benar-benar perkenalin Atsumu ke semuanya, Kiyoomi. Perlakukan dia dengan baik, karena kamu yang bawa dia kesini, do you understand?"

"Okay, okay."

Lingxie tersenyum, menarik bahu lebar putranya untuk menunduk, sebelum memberikan satu kecupan lembut di pipi pria 29 tahun itu.

"Be a gentleman."





Sebelum ia pergi menyusul suaminya yang sedang mengobrol dengan para tamu penting di sudut lainnya.

"OH MOM, PLEASE!"

Atsumu terkekeh pelan, melihat Kiyoomi yang langsung mengeluarkan hape dan membuka kamera, untuk mengecek apakah mommy nya barusaja meninggalkan noda lipstik di pipinya karena kecupan tadi.

Dengan satu gerakan, pemuda pirang itu menarik serbet di kantong jasnya. Mendekati Kiyoomi dan berjinjit kecil, menyamakan tinggi dengan sang pria alpha,

..lalu mengusap bekas merah di sudut pipi Kiyoomi.




"Cuma sedikit, gak bakal ada yang sadar," bisiknya, "..jangan panik gitu ah, jadi lucu ehehe..."

Tanpa sadar Kiyoomi menoleh ketika Atsumu sedang mencoba mengusap bekas noda lipstik di pipinya, lalu...

Mata mereka bertemu.

Satu-satunya yang ada didepan Kiyoomi adalah raut wajah Atsumu yang sedang tersenyum. Dan Atsumu pikir, saat itu juga dunia disekitarnya berhenti berputar.

Untuk sejenak, mereka saling tenggelam dalam pandangan masing-masing. Tak ada yang menolong, dan tak ada yang meminta tolong.

Hanya sebuah momen kecil. Tapi, untuk pertama kalinya Kiyoomi melihat wajah pemuda blond itu sedekat ini, dan lagi lagi, perasaan aneh itu muncul ke permukaan.

Perasaan yang tak pernah bisa Kiyoomi definisikan apa artinya.















*










Diluar dugaan.



Keluarga dan kerabat besar Sakusa adalah orang-orang yang mudah menerima orang baru dalam lingkup mereka.

Seharusnya Atsumu sudah menyangka sejak gadis kecil bernama Caca itu datang padanya dan langsung meminta gendong padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Anak itu pasti dibesarkan di lingkungan yang terbuka dan menyenangkan.

Dan sekarang, ditengah-tengah meja jamuan besar, seorang omega pria terus memberikan banyak makanan manis didepan Atsumu. Katanya, makanan manis adalah simbol penerimaan di keluarga mereka. Jadi, siapapun yang datang dan diberi banyak makanan manis, tandanya mereka telah diterima.

"Kamu agak pendiam, ya? Kenapa masih malu? Eh, gak usah sungkan anggep aja rumah sendiri. Nih, ini manisan gula ala India, om yang buat. Gih, dimakan— KIYOOMI STOP MAKAN, ITU BUAT NAK ATSUMU!!"

Dan yang dimarahi langsung nurut. Meletakkan kembali kue yang sempat ia ambil dari depan Atsumu.

Ah, baru kali ini Atsumu lihat Kiyoomi di marahi, dan pria itu tidak melawan balik.

"Hehe, gak papa om Eta. Lagian saya juga gak bakal bisa habisin semuanya, dibagi dua gak papa..."

"Tuh, dia juga gak keberatan."

"Ya ampun, nak Atsumu kamu bicaranya lembut sekali... Kiyoomi, kamu harus cepat! Sebelum nak Atsumu diambil orang. Cepat lamar dia!!"

Atsumu yang baru akan meneguk air putih tersedak dengan begitu tidak elegannya, saat Ethan tiba-tiba membahas soal pernikahan. Ya, memang. Di acara yang syahdu ini, bukan hal tabu untuk membicarakan itu. Tapi, tetap saja kan Atsumu belum ada persiapan...

Namun respon Kiyoomi agak berbeda. Pria itu cuma melirik sekilas, tanpa berkata atau membalas apa-apa.

Seolah dia mendengar, tapi tak ingin memberi tanggapan apapun.

"Oh, pengantinnya sudah datang! Pengantinnya datang!!"

Ditengah debaran jantung Atsumu yang menggila karena tiba-tiba menyenggol topik pernikahan, sebuah suara terdengar, yang memberitahukan bahwa kedua mempelai tengah berjalan menuju meja jamuan acara.

"Astaga, Iizuna keliatan ganteng banget. Dia banyak nangis hari ini, tapi wajahnya tetep ganteng!"

"Shion, sayangku... Menawan sekali dibalut satin putih."

"Mereka kelihatan cocok satu sama lain."

Bisik-bisik para tamu dan keluarga yang duduk melingkar di meja pun mulai bisa Atsumu dengar, saat kedua mempelai yang saling bergandengan tangan itu mulai melangkah mendekat, sebelum akhirnya duduk didepan meja. Berdampingan.

Ah, mereka tidak melebih-lebihkan apapun... Sang alpha yang terbalut jas putih nampak begitu gagah menawan dengan rambut disisir kebelakang dan setangkai mawar merah di kantong sebelah kirinya. Juga... Si omega memiliki raut wajah yang ramah dan lembut. Begitu pas, dan berpadu dengan indah.

Tak ada yang kurang. Mereka seperti ditakdirkan untuk bersama oleh semesta. 

Oh, dibelakang mereka ada Tante Lingxie dan seorang wanita lain yang juga tak kalah cantik, seolah menjaga dua pengantin agar tetap aman sampai di bangku meja perjamuan.









"Si Juna sok cool aja itu, aslinya dia pasti mau ketawa. Liat aja lubang idungnya mulai bergetar."

Atsumu menoleh, kearah Kiyoomi yang seperti membisikkan lelucon padanya.

"Pak, gak boleh gitu ish ini momen sakral mereka loh."

"Biarin aja, dia juga sering ngisengin saya."






Pertama-tama, si mempelai alpha itu mengucapkan terimakasih banyak untuk para tamu yang telah hadir di pesta pernikahan mereka. Dia memberitahu bahwa semua hiasan, dekorasi hingga makanan perjamuan acara ini disiapkan langsung oleh omega nya, jadi si alpha berharap para tamu bisa menikmati jamuan mereka, karena itu sama seperti menghargai usaha omega-nya.

"...dan untuk yang terakhir, biar saya katakan sekali lagi. Didepan semua orang yang hadir disini, saya ingin mengucapkan terimakasih—

Kepada pengantin saya, Inunaki Shion...


...karena telah memilih saya sebagai alpha-nya. Terimakasih karena telah menikah dengan saya. Terimakasih karena telah membiarkan saya memilikinya seumur hidup saya. Setelah ini, ayo kita bangun keluarga yang bahagia. Ayo kita bangun rumah yang hangat—

dan menjadi satu-satunya tempat kita untuk pulang."

Lalu setelah ucapan manis itu, sang alpha langsung merengkuh pemuda yang lebih kecil. Memberi pengantinnya ciuman lembut tepat di bibir.

Melihat adegan yang begitu romantis, semua orang disana bertepuk tangan... Kecuali Atsumu.

Pemuda itu terdiam. Terlalu tenggelam dengan perasaan cinta yang menguar diantara kedua pengantin. Juga— pikirannya melayang...

Sejak kecil, Atsumu adalah omega yang pandai merasakan. Dia punya insting yang tajam. Jadi, walau tidak ditunjukkan didepan semua orang, dia tau pengantin omega itu begitu bahagia. Dihujani banyak cinta oleh alpha sekaligus orang yang ia pilih untuk ia cintai— omega itu pasti telah mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya.

Dan Atsumu hanya terdiam melihat...



'apa gua bisa jadi kayak omega yang bahagia itu juga, ya?'





Atsumu paham tidak ada yang salah dengan pesta pernikahan ini, karena satu-satunya yang bermasalah adalah dirinya. 

Disaat orang-orang menyoraki kedua mempelai dengan doa dan ucapan selamat— pikiran Atsumu malah melalangbuana kemana-mana.

Apa dia bisa menjadi seperti itu suatu hari nanti?

Apa dia bisa menikahi pria yang dia cintai?

Apa dia akan dihujani cukup cinta dan merasakan kebahagiaan terbaik dalam hidupnya?




Ditengah pikiran itu, Atsumu menoleh...

Matanya menangkap sosok Kiyoomi yang kini tengah mengunyah sepotong kue.







"Lu tuh kayak orang yang lagi siap siap, tau gak?"







Tiba-tiba, ucapan yang disampaikan Oikawa beberapa bulan lalu mengisi kepalanya. 

Atsumu malah tidak pernah bermaksud bersikap begitu... Dia memperjuangkan Kiyoomi dengan segala yang ia bisa dengan harapan pria itu kembali mencintainya dengan cara yang sama, jadi kenapa—

Kenapa Oikawa bisa bilang kalau Atsumu sudah tau hubungan mereka tidak akan pernah terwujud?



"Ada yang salah di muka saya?"

Lamunan Atsumu terbuyarkan. Ah, dia gak sadar kalau sedari tadi ia menatapi wajah Kiyoomi dengan pandangan aneh. Pria itu pasti merasa terganggu...

"Hm? Enggak." Atsumu menggeleng kecil.

"Kamu daritadi ngeliatin saya makan. Ada yang nyelip di gigi saya, kah? Atau saya makan nya belepotan?"




Andai... Andai saja Kiyoomi tau...






Bahwa dia selalu belepotan saat makan. Bahwa dia selalu mengeluarkan suara yang aneh saat kesal. Bahwa dia sering mengerutkan alisnya dengan menyeramkan saat berpikir terlalu keras...

Andai saja Kiyoomi tau, bahwa Atsumu selalu memperhatikannya sampai ke detail yang dirinya sendiri tidak pernah menyadari.

Andai saja Kiyoomi tau— bahwa perasaan Atsumu tidak pernah se dangkal kelihatannya, tidak pernah se gampang yang pria itu kira.

Andai saja— andai saja Kiyoomi tau itu semua, apa akan merubah pandangannya terhadap Atsumu? Pemuda itu paham, Kiyoomi berada di usia dimana ia butuh seseorang yang stabil, bukan mahasiswa tingkat akhir yang hendak menyusun skripsi. 

Mungkin di mata Kiyoomi, Atsumu lebih seperti pemuda omega puber yang suka flirting ke alpha alpha tampan idaman orang-orang, makanya pria itu jarang menanggapi Atsumu dengan serius. 

Tapi, jika Atsumu boleh mengatakannya... 






Tidak pernah ada orang yang benar-benar ingin Atsumu miliki, sejak dulu, tidak pernah ada— kecuali Kiyoomi.






Kecuali pria didepannya yang suka makan belepotan, yang suka menggeram saat kesal, dan mengerutkan alis tanpa sadar. Kecuali dia, Atsumu tidak menginginkan siapapun...





Jadi sebenarnya jika Oikawa pikir dirinya saat ini sedang bersiap-siap untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kenangan dengan Kiyoomi, maka pemuda itu tidak salah.

Atsumu memang sedang melakukannya.

Bukan karena ia tau hubungan mereka tidak akan terwujud...


...tapi karena Kiyoomi adalah satu-satunya yang Atsumu inginkan dalam hidupnya. Terlepas dari semua usahanya berhasil atau tidak untuk membuat Kiyoomi kembali mencintainya, dia telah memutuskan untuk mencintai pria ini— maka ia akan mencintainya sampai akhir.







Didepannya, Kiyoomi masih mengerjab. Menunggu jawaban untuk pertanyaan mengenai noda makanan di mulutnya.

Tidak ada apa-apa disana. Ajaibnya malam ini Kiyoomi makan dengan rapih. Tapi...

Tangan Atsumu tetap terangkat. Menangkup rahang bawah pria 29 itu, mengusap krim yang sebenarnya tidak pernah ada di sudut bibir Kiyoomi—

...lalu ia tersenyum.








"Sempurna."










'bertahan sedikit lagi, ya, Tsumu. Kamu pasti bisa!!'





Postingan populer dari blog ini

TWO BOYS ARE LOST IN THE CHAPEL (Part 2)

A Boy Crying In The Twilight (Part 2)